Gerakan Penginjil Radikal "Bush"

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Gerakan Penginjil Radikal "Bush"

Post  Admin on Sun May 18, 2008 9:30 pm


Gerakan Penginjil Radikal "Bush"



Jejak Panjang Evangelis Amerika
SEBUAH konferensi kaum evangelis radikal dan Zionis Yahudi di Washington, pertengahan Mei lalu, menelorkan pernyataan keras. Mereka menilai "peta jalan" damai Timur Tengah bikinan Amerika Serikat sebagai "peta jalan setan." Proposal Presiden Geprge W. Bush itu, dianggap melanggar perjanjian Tuhan dengan bangsa Yahudi, empat ribu tahun silam, tentang Tanah Terjanji.

Mereka mengirim protes kerasnya kepada Presiden Bush. Lehih dari itu, mereka juga berkampanye lewat stiker berbunyi: "Doa untuk Presiden Bush agar menjunjung tinggi penjanjian Tuhan dengan Israel." Gerakan kaum evangelis radikal yang berlangsun selama sebulan belakangan ini, membuat gerah kaum agamawan di Amerika.

Masyarakat Amerika sangat pluralis merasa terusik oleh gerekan ini. Maklum, Amerika dengan segala khazanah kebudayaan dan etnisnya menjadi semacam kuali adonan, segalanya macam etnis, agama, kebudayaan ada di sana. Indian, warga pribumi Amerika, memiliki tradisi agama yang beragam. Ada sekitar 400-an lebih suku Indian yang masing-masing mempunyai tradisi keagama yang berbeda.

Fenomena Indian itu, menurut Dadi Darmadi MA, bisa dipakai saat berbicara mengenai kekristenan. "Di sana kekristenan banyak ragam dan bentuknya," katan pengajar Perbandingan Agama di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta itu. Pembentukan gereja, katanya, sangat tergantung pada latar belakang pendeta dan pengikutnya.

Pendeta geraja Protestan, misalnya, bisa membentuk gereja sendiri kalau ia tak cocok dengan pimpinan gerajanya. Mereka berhak mencari identitas diri berdasar Injil. Ada Episkopalian, Methodis, Presbiterian dll. Masing-masing gereja membentuk kecenderungan yang berbeda dari ritual sampai doktrinnya, seiring dengan naik turunnya interaksi sosial, ekonomi dan budaya Amerika.

Billy Graham & George W. Bush (AP Photo/Eric Draper)Munculnya, kaum evangelis radikal tak bisa lepas dari nuansa itu. Pada awal abad ke 19, ketidakstabilan politik menguncang Amerikan. Pertentangan kelas dan kerusuhan sosial berkobar dimana-manai. Semetara perilaku kalangan menengah atas, cenderung makin sekuler. Mereka mengejar kebebasan dan mimpi ala Amerika.

Di mata orang Kristen, perilaku semacam itu jelas bertentanagn dengan amanat Kitab Suci. Maka muncullah kelompok-kelompok orang yang berusaha menjaga fundamen kekristenan. Sekitar tahun 1830-an dan 1840-an, kauam fondamentalis Kristen Amerika menggelar Konferensi Niagara, mengusung beberapa pandangan konservatif.

Kondisi masyarakat yang mulai tak setia terhadap Kristus, dilihat sebagai suatu dekadensi moral. Di sisi lain mereka percaya akan kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kali, dalam momen seabad yang disebut The millennium. Kedatangannya akan membawa pertentangan, yakni antara Juru Selamat sebagai simbol kebenaran dengan setan.

Gerakan millenium fundamental itu tersebar di pelbagai gereja Amerika. Tugas mereka, menyadarkan manusia bahwa kerajaan Tuhan sudah dekat. Karena itu bertobatlah. Kehadiran evangelis radikal mendapat tanatanagn dari Kkelompok risten lain. Mereka berargumen bahwa Kristen hanya mengajarkan kasih sayang dan etika saja.

Pada tahun 1950-an sampai 1960-an berkembang kembali kecenderungan fundamentalisme di kalangan Kristen Protestan, berbarengan dengan menguatnya komunisme. Isu bahaya komunisme jadfidfikan alat kampanye mencari dukungan publik Amerika. Evangelis Amerika yang termasyur, Billy Graham mendapat banyak simpati dari orang-orang yang benci komunis.

Setelah komunisme runtuh dan tak ada gaungnya lagi, Islam pun kemudian dijadikan alasan pemicu fundamentalisme. Sampai tragedi 11 September 2001, Islam di Amerika menjadi agama yang paling pesat berkembang. Kedatangan Islam pertama di Amerika baru dimulai sejak kedatangan Drew Ali di akhir abad 19. Meskipun masih misterius, Drew sangat populer.

Kemudian muncul The Nation of Islam dari Elijah Muhammad. Mereka ini terdiri dari orang kulit hitam yang ingin membebaskan diri dari kungkungan kulit putih. Karena kalau mereka tetap Kristen, tak ada yang bisa menjadi pembeda. Mereka itu dulunya budak asal Afrika yang pada awal abad 18 sebagian besar bergama Islam, belakangan telah luntur keislamannya. Bagi mereka, Islam menjadi semacam penemuan kembali.

Pada saat kajian Islam berkembang pesat di kalangan akademisi Amerika, selama dau dasa warsa belakangan ini, secara kebetulan terjadilah serangan 11 September ke Menara Kembar World Trade Centre di New York. Pemerintah Amerika menuding pelakunya Al Qaeda, kelompok Islam geris keran pimpiana Usama Bin Ladin.

Sikap pemerintah Amerika itu, memicu bangkitnya kaum evanelis. Mereka menilai Isalam sebagai agama setan. Misalnya, Jerry Falweel seorang evangelis terkenal, menyebut Nabi Muhammad, seorang teroris. Jerry mempunyai kelompok yang disebut Moral Majority. Gerakan utamanya menentang aborsi, gay, feminisme, dan ingin memasukkan doa Kristen di sekolah-sekolah Amerika.

Hanya ada segelintir gerakan Kristen radikal di Amerika yang mewujudkan tujuannya lewat jalan kekerasan. Antara laian, gerakan Kristen fonmentalis anti-aborsi. Kelompok ini mengebom klinik-klinik aborsi di Amereka. Ada juga gerakan sayap nasionalis menunjukkan semangat anti-Yahudi pula. Mereka mengebom Gedung Federal kota Oklahoma, Amerika, 19 April 1995.

Sedang dakwah Billy Graham sendiri, menurut Dr Martin Sinaga, Dosen Sekolah Tinggi Theologi Jakarta, lebih kepada gerakan kebangunan rohani, kotbah-kotbah, reli-reli nasional di semua berlanngsung di tempat terbuka, seperti lapanga, stadion, dan sebagianya. Di sana orang diundang untuk kembali menemukan iman Kristen dan membawa orang kepada agama Kristen.

Mereka juga mempunyai media televisi sendiri, seperti TBN (Trinity Broadcasting Network) yang disiarkan ke seluruh dunia lewat televisi kabel. Pengikutnya kebanyakan kaum kulit putih, Anglosaxon. Billy mencapai puncak ketenaran pada akhir 1970-an. Jumlahnya pun demikian besar seiring dengan berkembangnya gerakan injili di Amerika. Gerakan ini menyebar terutama di Amerika bagian selatan dan utara.

Menurut Alwi Shibab, yang kini sedang menjadi dosen tamu di Hartford Seminary, Connecticut Amerika, jumlah pengikut evangelis hampir 20 juta di Amerika. Populasi sebesar itu menjadi perhitungan tersendiri kalau mau dipakai untuk kepentingan politik.

Secara kebetulan Bush sendiri berasal dari Texas, kawasan Amerika Serikat bagian selatan. "Hubungan Bush dengan evangelis cukup erat, walaupun dia dari Methodist," kata Alwi Shihab kepada Alfian dariGATRA. Hubungan itu sangat mempengaruhi politik Bush, dan sebaliknya mereka mendapat angin dari Bush. Sepak terjang evangelis itu, kata Alwi, di mata kelompok Kristen yang lain dinilai merugikan citra Amerika di luar.

Meskipun diprotes kumunitas kresten lainya, evangelis tetap melenggang tenang. Maklum, pengaruh tokoh evangelis Franklin Graham tak cuma di Gedung Putih saja. Ia juga dikenal dekat dengan kalangan pejabat Pentagon.

Pada perayaan Paskah, hari Jumat Agung, pertengahan April lalu, ia tetap bebas memberikan pelayanan doa di hadapan seputar 270 pegawai Pentagon. Padahal, beberapa Muslim yang bekerja di Departemen Pertahanan Amerika Seikat itu, jauh hari sudah minta agar kedatangan Fraklin dibatalkan.

G.A. Guritno dan Asrori S. Karni

======Boks 1======

Mutualisme Kekuasaan dan Fundamentalis

BISA jadi Geroge W. Bush lah, Presiden Amerika Serikat yang paling sering menggunakan idiom-idiom di Kitab Suci dalam ucapannya. Ketika pidato di hadapan anggota Kongres pada 20 September 2001 pascatragedi "Selasa kelabu," 11 September, misalnya, ia menyatakan bahwa Tuhan tidaklah bersikap netral dalam peperangan abadi antara kebebasan dan ketakutan, keadilan dan kekejaman.

Kala upacara pemberian ijazah di West Point, 1 Juni 2002, Bush muda kembali memakai ungkapan khas Injil yakni kebaikan dan kejahatan. Ia pun memposisikan Amerika saat ini dalam sebuah perang melawan kejahatan. Sewaktu memperingati setahun peristiwa 11 September, penghuni Gedung Putih itu mengatakan bahwa cahaya akan menyinari kegelapan, dan kegelapan tak bakal mengalahkannya.

Di hadapan rakyat Amerika dan dunia, Bush ingin menyatakan bahwa musuh-musuh Amerika disebut kegelapan, dan mereka tak bakal mampu mengalahkan Amerika yang diasosiasikan sebagai terang. Seringnya Bush menggunakan kata-kata dalam Kitab Suci, seperti ditulis oleh Newsweek, Edisi 10 Maret lalu, tak lepas dari penghayatannya. Bush berusaha menempatkan dirinya sebagai pembawa pesan moral dari dalam Kitab Suci kepada seluruh rakyat dan bangsa Amerika.

Bagaimana keyakinan Bush dan evangelis disekelilingnya mempengaruhi kebijakannya pasca 11 September, memang sulit untuk ditaksir. Dalam suasana trauma hampir menghantui semua rakyat Amerika, pernyataan yang dibawa Bush sering ditimpali dan diseret oleh evangelis macam Jerry Falwell dan Pat Robertson pada kerangka perang agama. Robertson, misalnya menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai "a wild-eyed fanatic" atau seorang yang sangat fanatik.

Franklin Graham, putra tokoh evangelis Billy Graham, yang tak lain karib Bush muda melukiskan agama Islam sebagai jahat. Pertemanan itu ditengarai banyak pihak sebagai hubungan saling mempengaruhi. Dan Bush sendiri dalam bukunya "A Charge To Keep" mengungkap bagaimana keluarga besarnya sudah menjalin hubungan dengan Billy sejak lama.

Ayahnya, George Bush sering mengundang Billy di berbagai kegiatan keluarga. Begitu akrabnya dua keluarga tersebut, terlihat dari leluasanya Billy keluar masuk Gedung Putih. Billy pun salah satu evangelis yang mendukung Bush tua melakukan serangan ke Irak dalam perang teluk Januari 1991. Bahkan ia menghabiskan waktu bareng Bush tua di Gedung Putih semalaman ketika serangan pasukan koalisi pertama kali memulai pembomannya atas Irak.

Hampir dua belas tahun kemudian peristiwa itu terulang. Namun, kali ini dalam konteks berbeda. Kala Bush muda menggempur Irak dengan dalih perang suci. Franklin membangun fanatisme sempit di kalangan Kristen pengikutnya dan sekaligus menciptakan stigma negatif kepada kelompok radikal Islam.

Hubungan Billy dengan Bush tua dan Franklin dengan Bush muda, menurut Paulus S. Widjaja, pengajar Pascasarjana, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, bersifat mutualisme atau saling menguntungkan. Banyak penguasa yang memanfaatkan popularitas pemimpin yang kharismatis untuk memasarkan kebijakannya. "Yang fundamental butuh dekat kekuasaan, sedangkan kekuasaan butuh dukungan publik," katanya.

G.A. Guritno dan Sujoko (Yogyakarta)

======Boks 2======


Obsesi Eksklusivisme Pemicu Iritasi

GERAKAN Evangelical atawa Injili seperti tumbuh di Amerika Serikat ternyata merembus pula di tanah air. Menurut Dr Martin Sinaga, pengajar di Sekolah Tinggi Theologi Jakarta, kelompok ini sudah berkembang di Indonesia sejak awal tahun 1980-an. Kelompok yang merasa diri lebih murni ini datangnya dari Amerika dan dekat grup-grup fundamentalis di sana.

Kaum Injili ini punya ciri khas, bersemangat sekali dalam pengabaran injil. "Mereka ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah jalan keselamatan satu-satunya. Tak ada jalan lain kecuali melalui Dia," katanya kepada BM Lukita dari GATRA. Dalam perjuangannya, Injili menilai orang Kristen kini tertidur dan perlu kebangunan rohani. Bahkan ada sebuah Sekolah Tinggi Teologi yang mewajibkan setiap yang hendak tamat untuk membaptis dulu lima orang.

Kelompok ini begitu ekspansif. Oleh karena itu sering menciptakan iritasi pergaulan antar umat beragama. Pola gerakannya sangat mirip dengan apa yang dilakukan Billy Graham, yang menekankan pertobatan dan mau menerima Yesus Kristus sebagai juru selamat dan Tuhan. Pertobatan tersebut memiliki dua arti sekaligus. Pertama, 'lahir baru' yang berarti orang Kristen yang lesu menjadi lahir baru.

Pengajarannya melalui kebaktian, misalnya mengupayakan orang bertobat, menerima Kristus dan menyakini bahwa kebutuhannya dipenuhi Tuhan. Kedua, mereka ingin orang masuk Kristen dan dibaptis. Cara mendekati orang non-Kristen tersebut, menurut Martin, adalah dengan buku, pamflet, mendatangi rumah, menolong orang serta akhirnya mengatakan bahwa keselamatan hanya dalam Kristus.

Kalau di Amerika, Billy Graham memiliki campus crusade yang artinya kurang lebih "perang salib di kampus", di Indonesia pun muncul gerakan serupa lewat pelayanan rohani pada mahasiswa di kampus-kampus. "Bila digambarkan, mungkin sama semangatnya dengan kelompok-kelompok kecil yang tumbuh di berbagai agama dan menciptakan eksklusivisme," kata Martin.

Kegiatan mereka, diantaranya berdoa, membaca alkitab bersama untuk membuktikan kalau mereka lebih baik, lebih pandai, lebih serius, dan tidak mempercayai orang luar. "Orang luar dianggap pendosa, dan belum bertobat. Mereka menganggap dirinya anak-anak terang, orang luar anak kegelapan," ujarnya.

Akibatnya, Martin menambahkan, pikiran orang-orang di dalamnya jadi fundamentalis, tertutup, dan kalau bisa menambah jumlah pemeluk dari orang yang berbeda agama. "Oleh karena itu, gerakan mereka bisa menumbuhkan kejengkelan baik umat Kristen sendiri dan terlebih umat beragama lain," kata Martin.

Cara-cara mengabarkan injil dengan mendiskreditkan agama lain ini, menurut Martin, bertentangan dengan semangat Kristen. Orang pindah agama adalah haknya. "Tapi bila obsesi orang Kristen adalah membawa banyak orang masuk Kristen, itu melanggar kesaksian Yesus, yang hadir ke dunia untuk orang lain. Seharusnya orang Kristen memberi hidupnya untuk orang Islam dan bukan orang Islam menjadi Kristen," katanya.

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Gerakan Penginjil Radikal "Bush"

Post  Admin on Sun May 18, 2008 9:33 pm

Cara-cara mengabarkan injil dengan mendiskreditkan agama lain ini, menurut Martin, bertentangan dengan semangat Kristen. Orang pindah agama adalah haknya. "Tapi bila obsesi orang Kristen adalah membawa banyak orang masuk Kristen, itu melanggar kesaksian Yesus, yang hadir ke dunia untuk orang lain. Seharusnya orang Kristen memberi hidupnya untuk orang Islam dan bukan orang Islam menjadi Kristen," katanya.

Menurut Dr Bambang Ruseno Utomo MA, kelompok gereja fundamentalis di Indonesia menempati porsi kecil secara kuantitas. "Antara 20 sampai 30 persen," kata ketua sinode Gereja Kristen Jawi Wetan, Malang. Bahkan mereka tak populer di kalangan Kristen sendiri. Ciri khas mereka adalah semangat pengkabaran injil yang berkobar, namun muncul karena pemahaman pengkabaran yang sempit.

Mayoritas penganut Kristen di tanah air memang berbeda dengan segelintir gereja garis keras yang bersifat superior. Namun, meskipun mayoritas, mereka ini mayoritas diam. "Berbeda dengan kelompok radikal. Meskipun kecil namun reaksioner dan gaungnya luar biasa," kata peraih gelar master Islamic Studies dari University of Birmingham, Inggris ini.

Bambang menunjuk kehebohan dan kontraversi Pendeta Suradi dari Yayasan Nehemia, Jakarta, dan Pendeta Muhammad Filemon yang belakangan muncul. Fenomena tersebut menyulitkan posisi Kristen inklusif yang jumlahnya sekitar 88% dari seluruh jumlah gereja di Indonesia. Sisanya adalah aliran eksklusif.

Direktur Sekolah Tinggi Teologi Balewiyata, Malang itu menunjuk kelompok eksklusif tersebut adalah mereka yang bergabung dalam kelompok Pentakosta, seperti Gereja Bethany, Tabernakel, Baptis, Metodis dan sebagian Gereja Evangelikal. Jumlahnya ratusan namun kecil-kecil. Mereka ini, menurut Bambang, mempunyai semangat penginjilan yang tinggi, bukan hanya kepada pemeluk Islam, tapi kepada sesama Kristen juga.

Ada lagi yang dakwahnya ngotot sekali, yakni Saksi Jehowah. Dakwahnya agresif sekali dengan mendatangi rumah-rumah. "Sekte ini anti gereja, baginya gereja dan negara adalah buatan setan," katanya. Peribadatannya dilakukan di rumah, hotel dan berbagai tempat dengan ritual sendiri. Kelompok ini bekerja seperti sel, tak punya kantor dan figur yang populer, namun pusatnya dikendalikan dari Amerika.

G.A. Guritno dan Mujib Rahman (Surabaya)

Kegagalan dan Keputusasaan

TRAGEDI 11 September membuka peluang manis bagi warga Amerika Serikat untuk mengenal Islam lebih dekat. Dilandasi oleh motivasi yang berbeda-beda, masyarakat Amerika semakin mengenal Islam yang sesungguhnya. Islam, sebagaimana juga agama Kristen, diyakini oleh pemeluknya sebagai agama yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Di Amerika, gereja-gereja, sekolah, dan bahkan institusi pemerintahan sekalipun, membuka diri bagi para imam untuk memberikan ceramah tentang Islam. Sebaliknya, masjid juga semakin ramai dikunjungi oleh para non-Muslim.

Islamic Cultural Center of New York misalnya, menerima tidak kurang dari 15 kunjungan grup non-Muslim setiap bulannya. Dari kunjungan-kunjungan tersebut biasanya terbangun kontak pribadi antara imam dan anggota grup tadi, yang tidak jarang berakhir dengan "Syahadah". Di Islamic Cultural Center itu, untuk dua bulan terakhir ini misalnya, ada 17 orang yang menyatakan menerima Islam sebagai agamanya.

Belum lagi pendekatan-pendekatan pribadi para orang Islam di tempat kerja, sekolah, dan sebagainya. Sebagai catatan, hampir di semua universitas di Amerika, sekarang ini telah berdiri MSA (Muslim Student Association). Semua itu merupakan indikasi nyata akan perkembangan Islam yang sangat dahsyat di negara adi daya itu.

Hampir semua yang masuk Islam di sana, adalah karena sebuah kesadaran yang sejati. Hampir 70% di antara mereka memeluk Islam karena didahului oleh keragu-raguan terhadap agamanya sebelum menjadi Muslim.

Pada saat yang sama, propaganda-propaganda jahat terhadap Islam justru menjadi motivasi bagi mereka untuk mencari tahu realita Islam yang sesungguhnya. Dan pada akhirnya, didukung oleh semangat kejujuran dan keterbukaan, mereka menerima Islam sebagai agama kebenaran. Kenyataannya, tidak jarang setelah menjadi Muslim, mereka justru lebih kuat dan kokoh dalam beragama ketimbang mereka yang ditakdirkan lahir sebagai Muslim.

Sebaliknya, misionaris Kristen datang ke berbagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Indonesia, baik secara kuantitas maupun kualitas, penerimaan terhadap ajaran mereka tidak sebanding dengan penerimaan ajaran Islam di dunia non-Muslim. Belum pernah kita dengar misalnya, di suatu kampung warga Muslim masuk ke dalam agama lain secara berombongan, atau seorang Muslim secara terang-terangan menyatakan meninggalkan agama Islam dan memeluk agama yang baru.

Pemeluk kedua agama besar itu meyakini bahwa baik Islam maupun Kristen menganut paham missionary (tablig). Artinya, kedua agama ini mewajibkan umatnya untuk menda'wahkan ajarannya kepada seluruh umat manusia. Konsekuensinya, keduanya harus berpacu, berlomba, dan tidak terhindarkan terjadi persaingan. Namun, perlombaan yang terjadi di antara keduanya seharusnya bersifat elegan, jujur, serta mengikut kepada norma-norma hubungan baik antarpemeluk agama.

Islam memberikan kebebasan kepada semua pemeluk agama untuk melakukan kewajiban-kewajibannya. Rasulullah di Madinah tetap melestarikan sekolah-sekolah Yahudi, Midras, agar mereka mampu menjaga kelestarian agama mereka. Ketika utusan bangsa Nejran, sebuah kota di Yaman ketika itu, mendatangi Rasulullah untuk berdebat selama 3 hari dan 3 malam, beliau menerima mereka dan memberikan izin kepada mereka untuk tidur, makan, dan bahkan beribadah sesuai keyakinan mereka di dalam masjid. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan:

"Barangasiapa yang menyakiti non-Muslim (dalam sebuah Negara mayoritas Muslim), maka saya akan menjadi musuhnya pada hari Kiamat."

Ketika umat Islam berkuasa di Spanyol, semua pemeluk agama, termasuk Kristen dan Yahudi, terlindungi hak-haknya. Tapi, ketika umat Kristen di bawah pimpinan Ratu Isabella kembali menaklukkan Spanyol, semua warga non-Kristen, termasuk Yahudi dan Muslim, dibasmi habis.

Akhir-akhir ini, sekelompok kecil dari agama tertentu dengan dukungan dari kalangan media massa, melakukan upaya-upaya pembunuhan karakter terhadap agama Islam. Islam digambarkan sebagai agama yang tidak mengajarkan moralitas dengan propaganda yang sistematis dan komprehensif.

Tuduhan dan propaganda murahan yang dilakukan oleh para pendeta Evangelis di Amerika misalnya, merupakan katakutan terhadap Islam (Islamphobia) sekaligus merupakan indikasi kegagalan dan keputusasaan mereka.

M. Syamsi Ali
Anggota Dewan Islamic Cultural Center of New York dan asisten imam di Mesjid Raya Manhattan.

Penginjil Menggugat Muhammad

AMERIKA Serikat sudah lama jadi surga kaum penginjil. Di sana, Kristen Protestan memang merajai, hingga ke urusan politik. Sejak Peristiwa 11 September 2001, gerakan mereka makin kuat dan berani. Sasaran utamanya memurtadkan komunitas Islam. Mereka tergabung dalam Arab International Ministry yang bermarkas di Indianapolis. Konon, lembaga itu sudah melatih 4.500 penginjil untuk melancarkan misi kristenisasi itu.

Strategi yang paling gencar, dengan mengedarkan buku-buku anti-Islam. Sebagai kiblat studi Islam di Barat, sebenarnya Amerika lebih dikenal dengan kajian yang obyektif, seiring dengan menjamurnya pusat-pusat studi Islam di berbagai kampus terkemuka, seperti Harvard, Columbia, Cornell dan Temple sejak akhir abad ke-19. Tak heran, banyak sarjana ahli Islam asal Indonesia juga jebolan dari negeri Paman Sam.

Sayang, kajian akademis tentang Islam, tak cukup mendongkrak citra Islam itu sendiri. Tak semua orang Amerika tertambat di buku-buku karya penulis bernalar lurus. Tengok saja, di berbagai gerai, puluhan judul buku yang bernada hujatan terhadap Islam, bertebaran. Seperti dilaporkan wartawan GATRA, di toko buku Barnes & Noble, kawasan Valley Forge, Philadelphia, buku tentang Islam laris manis.

Contohnya, buku berjudul Islam Unveiledisturbing Questions About The World's Fastest Growing Faith karya Robert Spencer, dan Why I am Not A Muslim karya Ibn Warraq. Di satu gerai buku saja, rata-rata terjual lebih dari 3.000 eksemplar. Kedua buku itu bernada sangat negatif terhadap Islam.

Dalam bukunya, Robert Spencer, anggota Dewan Forum Islam-Kristen Amerika, berusaha menjawab kenapa Islam tak cocok dengan demokrasi liberal, dan kenapa Islam tak bisa toleran dengan nonmuslim. Analisis Spencer memperkuat tesis yang dibangunnya lebih dulu, bahwa Islam sulit jadi agama damai. Alasannya, merujuk pada Al-Quran dan Hadist, terdapat bukti-bukti, misalnya perbudakan dan poligami masih diajarkan dalam Islam. Lalu, Yahudi dan Kristen dinilai sebagai agama yang selalu memusuhi Islam.

Lebih jauh, dalam bukunya, Ibn Warraq, eksmuslim yang kini jadi guru di Ohio, mengurai tentang proses penulisan Al-Quran. Menurut dia, tak ada bukti bahwa kitab suci umat Islam itu merupakan wahyu. Sebab, Muhammad sebenarnya hanya menuliskan kembali dan menambahnya dari yang tertuang di kitab suci Kristen dan Yahudi. "Jadi, Muhammad itu tak orisinal," tulis Ibn Warraq.

Usaha mengkritik Al Quran, menurut dia, berkali-kali dilakukan orang muslim sendiri, antara lain Ali Dasthi (Iran), Toha Husein (Mesir), Mahmud Muhammad Toha (Sudan) dan Muammar Qadafi (Libya). Menurut dia, Ali Dasthi ditahan oleh Ayatullah Khomeini gara-gara menggugat kesahihan Al Quran. Sebelum meninggal di penjara pada 1984, Ali sempat berwasiat, jika tulisannya disebarluaskan, tak akan pernah meletus Revolusi Islam di Iran. Sedangkan, pemimpin Libya Qadafi, sempat menyatakan ibadah haji ke Mekkah merupakan tindakan bodoh dan sia-sia.

Kesimpulan lain yang ditulis Ibn Warraq: Islam disebarluaskan dengan teror dan pamer kekuasaan. Kala itu, menurut dia, kebanyakan orang memeluk Islam karena menghindari pajak, penindasan, takut masuk penjara, atau tergila-gila dengan wanita muslim.

Tulisan senada yang menghujat Islam kebanyakan buah karya para penginjil radikal. Salah satu terbitan resmi Arab International Ministry, pada 2000, berjudul Adha In The Injeel karya Fuad Issa. Isinya, antara lain, Idul Adha yang dirayakan umat Islam dengan menyembelih kambing, sebenarnya awalnya ritual Yahudi. Namun, ritual itu sudah disempurnakan Tuhan, dengan mengorbankan Yesus. "Itulah Idul Adha yang sesungguhnya," tulis Issa.

Dalam buku itu, antara figur Yesus dan Muhammad diperbandingkan. Kelahiran Yesus penuh dengan keajaiban. Ia lahir dari Maria yang masih perawan, tanpa ayah. Sedangkan, Muhammad terlahir laiknya manusia biasa. Tak ada mukjizat yang dimilikinya, seperti menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, mengusir hantu atau mengatur angin dan ombak. Dalam Injil, Yesus itu sempurna dan tak pernah berdosa. Sedangkan, dalam Al Quran, Muhammad tak ditegaskan kesuciannya. Malah, ia kerap berdoa minta ampunan Tuhan.

Karya kontroversial tentang Al-Quran juga pernah ditulis Salman Rushdie, penulis asal Inggris pada 1990-an. Judulnya, The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Kala itu, ia difatwa mati oleh Ayatullah Khomeini, pemimpin spiritual Iran. Tapi, saat ini, tulisan menghujat Islam bisa berlenggang bebas, usai deklarasi perang melawan terorisme dikumandangkan Presiden George W. Bush. Pasalnya, gerakan Islam radikal, selalu ditabalkan sebagai gerakan teroris.

Kholis Bahtiar Bakri dan Didi Prambadi (Philadelphia)

Mereka Yang Berlidah Tajam

RIBUAN orang memadati Ford Center di Oklahoma City, Oklahoma, Amerika Serikat, Kamis malam pekan lalu. Mereka berkumpul untuk menghadiri kebaktian yang dipimpin evangelis kondang dunia, Reverend Billy Graham. Pendeta berusia 84 tahun itu sedang "menggelar" missi keagamaan selama empat hari. Dan, Oklahoma City merupakan kota pertama yang dikunjungi pendiri The Billy Graham Evangelistic Association itu.

Ketika Graham berjalan menuju panggung, para hadirin, yang diperkirakan berjumlah 29.000 orang itu, menyambutnya dengan standing ovation. Dalam pidatonya yang berlangsung selama lebih kurang 45 menit, Graham mengungkapkan keprihatinannya soal dunia yang tengah diliputi kekacauan. "Situasi di Timur Tengah, dalam pandangan saya, tak lain merupakan tanda kedatangan Kristus," katanya.

Pria yang pernah menjadi penasihat spiritual Presiden Amerika, George Bush Sr., itu lantas mengajak umatnya melakukan doa bersama untuk rakyat dan bangsa Timur Tengah. Juga berdoa untuk para penderita AIDS dan penyakit lainnya. Graham, yang menderita parkinson dan pernah menjalani operasi otak pada 2001, mengatakan, seharusnya ia sudah mati dua tahun lalu. "Saya tahu, dalam usia setua ini saya tak punya waktu lebih panjang untuk hidup." katanya.

William Franklin Graham Jr. lahir di Charlotte, Carolina Utara, 7 November 1918. Ia bergabung dalam sebuah lembaga evangelis atau pekabaran Injil pada 1943. Sekitar tujuh tahun kemudian, ia mendirikan lembaganya sendiri yang dinamakan Billy Graham Evangelistic Association (BGEA). Selain mensponsori pekabaran Injil, BGEA juga memproduksi program-program radio dan televisi, plus film bertema kekristenan.

Dari perkawinannya dengan Ruth Bell, Graham, yang sudah berkhotbah di depan 210 juta orang di lebih dari 185 negara, dikarunia lima anak dan 19 cucu. Namun, "bakat evangelis"-nya menurun pada anak keempatnya, William Franklin Graham III. Lelaki yang lebih dikenal dengan nama Franklin Graham ini masuk dalam jajaran "evangelis Amerika beraliran keras".

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Gerakan Penginjil Radikal "Bush"

Post  Admin on Sun May 18, 2008 9:35 pm

Franklin, yang punya hubungan dekat dengan presiden Amerika, George W. Bush, menjadi sangat kontroversial ketika mencap Islam sebagai agama yang jahat dan sangat kaku. "Saya tak percaya Islam merupakan agama yang mengagumkan dan penuh kedamaian," katanya ketika itu. "Kalau membaca al-Quran, kita akan menemui ayat-ayat yang menginstruksikan agar membunuh para kafir, yaitu orang-orang yang bukan Muslim," ia menambahkan.

Ketika remaja, Franklin tak pernah berminat mengikuti jejak sang ayah menjadi penginjil. Pria kelahiran 14 Juli 1952 yang besar di daerah Pegunungan Appalachia di luar Asheville, Carolina Utara, ini justru dikenal sebagai remaja ugal-ugalan. Hobinya ngebut dengan sepeda motornya, berakrobat dengan pesawat kecil, mabuk-mabukan, pesta, dan gonta-ganti pacar. Ia bahkan mengaku pernah mencoba mengisap mariyuana.

"Saya cuma ingin bersenang-senang," kata Franklin, seperti dikutip CNN.com. Untuk mengendalikan kenakalan Franklin, orangtuanya mengirimnya ke Stony Brook, sekolah kristen elit di Long Island, New York. Hasilnya, drop out. Pindah ke sekolah lain, LeTourneau College di Longview, Texas. Tapi tak lama kemudian dikeluarkan akibat kenakalannya.

Hidup Franklin berubah 180 derajat ketika menginjak usia 22. Ayahnya, Billy Graham, mengajak bicara dari hati ke hati dengan topik "arah hidup". Perkataan ayahnya ternyata tertanam dalam di hatinya. Suatu malam di sebuah kamar hotel di Yerusalem, Franklin memutuskan untuk mengabdikan seluruh hidupnya bagi Tuhan. Kisah pertobatan itu ia tuangkan dalam otobiografinya yang terbit pada 1995 dengan judul Rebel With a Cause: Finally Comfortable Being Graham.

Sepulang dari Yerusalem, Franklin menikahi gadis sekotanya, Jane Austin Cunningham. Mereka dikaruniai empat anak. Suatu hari teman keluarga mereka, Bob Pierce, mengajak Franklin ikut dalam misi penginjilan selama enam pekan ke Asia. Pierce adalah pendiri organisasi Kristen Samaritan's Purse dan World Vision. Ia meninggal pada 1978 akibat serangan kanker darah.

Setahun setelah kematian Pierce, Franklin mengambilalih jabatannya sebagai presiden organisasi yang mempekerjakan 300 karyawan itu. Pada tahun 2000, lima tahun setelah ayahnya dinyatakan menderita kanker darah, Franklin ditunjuk sebagai penggantinya. Jadilah ia Kepala Eksekutif Billy Graham Evangelistic Association yang berkantor pusat di Minneapolis, Minnesota.

Selain Franklin, tokoh evangelis yang juga masuk kategori garis keras antara lain adalah Jerry Falwell, Jerry Vines, dan Pat Robertson. Vines, mantan presiden Konvensi Baptis Selatan, dihujani cela warga Muslim dan kalangan Kristen sendiri, karena pernyataannya yang cukup keterlaluan. Ia menyebut Nabi Muhammad sebagai penderita pedofilia yang dirasuki iblis.

Marion Gordon "Pat" Robertson, kelahiran Lexington, Virginia, 22 Maret 1930, adalah pendiri Koalisi Kristen Amerika. Ketika terjadi serangan 11 September 2001, Pat menuding gaya hidup rakyat Amerikalah yang telah mendatangkan hukuman Tuhan lewat bencana itu. Karenanya, Pat kencang menyerukan perubahan Konstitusi Amerika dengan undang-undang Kristen.

Putra pasangan A. Willis Robertson dan Gladys Churchill Robertson ini dikenal dunia internasional sebagai broadcaster religius, dermawan, pendidik, pemimpin agama, pengusaha, dan penulis buku. Ia juga pendiri dan ketua Christian Broadcasting Network (CBN) Inc., pendiri International Family Entertainment Inc., Universitas Regent, American Center for Law and Justice, The Flying Hospital, Inc., dan sejumlah organisasi lain.

CBN, yang didirikan pada 1960, merupakan jaringan televisi Kristen pertama di Amerika. Kini CBN merupakan salah satu televisi pekabarab Injil terbesar di dunia. Memproduksi sejumlah program yang ditonton di 180 negara, dengan 71 bahasa berbeda, termasuk Rusia, Arab, Spanyol, Prancis, dan Cina.

Jika ditelusuri, Pat --menikah dengan Dede dan dikaruniai empat anak, plus 13 cucu-- punya moyang orang-orang besar Amerika. Ada Benjamin Harrison, penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika dan gubernur Virginia. Ada juga dua presiden Amerika, William Henry Harrison dan Benjamin Harrison, serta Winston Chusrchill. Pada 1948 Pat terdaftar dalam Pasukan Cadangan Korps Marinir Amerika.

Dua tahun kemudian Pat lulus dengan prestasi magna cum laude dan bergelar Sarjana Seni dari Washington and Lee University. Tak lama setelah itu ia diangkat menjadi asisten ajudan Divisi Satu Marinir Amerika dan terjun ke kancah Perang Korea. Sepulang dari Korea pada 1952, Pat dipromosikan menjadi Letnan Satu. Tiga tahun kemudian ia menerima gelar doktor hukum dari Sekolah Hukum Universitas Yale. Dan, menyandang gelar master dari New York Theological Seminary pada 1959.

Robertson juga dikenal luas sebagai penulis buku The Turning Tide, The New Millenium, dan The New World Order, yang menduduki peringkat empat daftar buku terlaris versi The New York Times. Karya fiksinya yang berjudul The Secret Kingdom juga masuk daftar terlaris versi majalah Time --di peringkat ketiga. Pat sekarang duduk sebagai anggota Dewan Pengurus Kemitraan Pengembangan Ekonomi negara bagian Virginia.

Wilis Pinidji


Semangat Berburu Teman di Surga

Billy Graham (AP Photo/Henry Barrios)IKTIKAD baik Abdel Hakim Banbader justru membuat jalan hidupnya berliku. Sopir taksi asal Aljazair ini menyadari telah tinggal di Amerika Serikat secara ilegal. Karena itu, ia berinisiatif mendaftarkan diri ke kantor imigrasi supaya statusnya tidak haram. Negeri adikuasa itu, di mata Abdel, menjanjikan masa depan lebih baik. Maklum, istri dan anak lelakinya berstatus warga Amerika.

Namun, bukannya status legal yang didapatkan, Abdel malah menghadapi ancaman deportasi. "Padahal kami sedang berencana membeli rumah," kata Abdel kepada The New York Times. "Kami ingin memperoleh pekerjaan yang layak seperti orang lain. Jika saya harus hengkang, tentu akan jadi masalah besar," ungkapnya dengan tatapan kosong.

Nasib Yasser Tain lebih tragis. Sebulan lalu, agen real estate asal Suriah itu diusir di kediamannya di Stanton, California. Bersama istrinya, Zhour, dan dua anaknya yang kelahiran Amerika, Yasser harus kembali ke kampung halaman yang sudah 14 tahun ditinggalkan. Seluruh perabot rumahnya sudah kosong. Mulai permadani, meja makan, sampai ranjang anaknya. "Semua sudah saya jual," kata Yasser.

Pekan lalu, pejabat imigrasi Amerika menjelaskan, 13.000 lebih imigran Arab dan muslim yang telah mendaftarkan diri ke kantor imigrasi terancam disuruh pulang. Deportasi memang menjadi senjata pemerintahan George W. Bush untuk melawan terorisme. Kebetulan, belasan orang yang dituding tersangka dalam serangan 11 September 2001 adalah kalangan Arab muslim.

Sejak tragedi yang menghancurkan menara kembar World Trade Center itu, pemerintah menahan dan mendeportasi imigran ilegal dari kawasan yang diduga tempat pengembangan teroris. "Kami perlu memfokuskan penegakan hukum pada ancaman terbesar," kata Jim Chaparro, pejabat di Departemen Keamanan Dalam Negeri. "Kalau ada celah yang bisa dimanfaatkan kaum imigran, pasti juga bisa dieksploitasi para teroris," Jim menambahkan.

Kebijakan ini mengundang protes para pembela imigran. Mereka menuduh pejabat imigrasi hanya mengincar imigran ilegal dari negara-negara Arab dan muslim. "Pelanggaran yang sama dilakukan imigran asal Meksiko, tapi tidak ditindak dengan cara yang sama," kata Lucas Guttentag, Direktur Proyek Hak-hak Imigran pada American Civil Liberties Union.

Lucas menuding, ilegalitas para kliennya lebih karena inefisiensi pemerintah. Banyak yang sudah bertahun-tahun mendaftar, tapi aplikasinya ditangguhkan. Ancaman deportasi juga dihadapi warga Indonesia, negeri muslim terbesar. Malah, dalam pengamatan GATRA di Philadelphia, banyak imigran gelap asal Indonesia yang rajik ke gereja Protestan dan Katholik pun terkena deportasi.

Sebut saja Samuel Sutanto, yang bakal dideportasi September mendatang. Pria asal Semarang ini sudah lima tahun bekerja di "negeri Paman Sam" itu. Padahal, ia aktivis Gereja Kristen Baptis, di kawasan Philadelphia. Tiap ahad, ia menjadi tukang antar-jemput anak-anak Kristen bersekolah Minggu. Berbekal tabungan US$ 3.000 plus US$ 1.500 (kalau mobilnya terjual), mau tak mau dia harus pulang ke Jawa Tengah. "Kalau ngotot bertahan, risikonya bisa jadi buronan," katanya.

Beleid deportasi besar-besaran imigran asal negara Arab dan muslim itu menimbulkan nuansa lain. Karena dilansir di tengah menguatnya kabar konsolidasi kaum evangelis Amerika, yang mengincar komunitas Islam setempat. Koran International Herald Tribune dan The New York Times terbitan 27 dan 28 Mei lalu melaporkan, seminar sehari para tokoh evangelis dari berbagai negara membahas strategi membujuk umat Islam menjauhi agamanya.

Acara tersebut berlangsung di Aula Fellowship Gereja Southwest Grace Brethen, Grove City, Ohio, Amerika Serikat. Sang pembicara, seorang penginjil asal Beirut, Lebanon, menjelaskan metode pendekatan pada umat Islam. Antara lain: Tunjukkan cinta! Beri sedekah! Bersikaplah ramah! Dan, berika copy Perjanjian Baru sebagai bingkisan!

Peserta seminar terdiri dari dua pastor, seorang sekretaris sekolah, dan sejumlah mahasiswa mengungkapkan keinginannya mengalihkan muslimin Amerika ke dalam Kristen. Mereka juga siap menjalankan misi itu ke luar negeri. Pembicara itu kemudian mempresentasikan beberapa ayat Al-Quran yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama terbelakang, curang dan garang.

"Dalam Al-Quran ini disebutkan, bunuhlah mereka, bunuhlah orang kafir!" kata pembicara yang minta dirahasiakan namanya itu. Karena itu, menjadi misionaris di kalangan muslim, menurut dia, sangat berisiko. Ia lalu membandingkan, "Di Bibel tak ada kata-kata dari Yesus bahwa kita harus membunuh orang-orang tak berdosa."

Sikap antipati pada Islam di kalangan evangelis akar rumput Amerika belakangan makin menguat akibat maraknya pernyataan provikatif para pendeta evangelis ternama. Misalnya Franklin Graham, Jerry Vines, Jerry Falwell, dan Pat Robertson. Graham menyebut Islam "agama berbahaya dan jahat." Sementara Vines menggambarkan Nabi Muhammad sebagai "paedofil yang kerasukan setan".

Wawancara Falwell pada acara "60 Minutes" di televisi CBS, New York, Oktober 2002, malah memancing rentetan kemarahan kaum muslim. Dari New York sampai Kashmir. Pemimpin Gereja Baptis Konservatif itu menyatakan, "Saya kira, Muhammad itu seorang teroris." Sedangkan Pat Robertson, pendiri koalisi Kristen Amerika, pernah bilang, "Berpikir bahwa Islam agama damai adalah bentuk kecurangan. Ia juga menjuluki Muhammad "perampok" dan "pembunuh".

Arab International Ministry (AIM), organisasi di Indianapolis yang menggelar kursus tentang Islam, dilaporkan mengkalim telah melatih 4.500 Kristen Amerika dalam enam tahun terakhir. Tugas mereka memurtadkan umat Islam. Gerakan ini makin giat sejak peristiwa 11 September.

Pemberitaan koran terkemuka Amerika itu sepekan kemudian menyulut reaksi pembaca. Itu tergambar dalam lima surat pembaca yang dimuat pada edisi 2 Juni. di antaranya dari Rudolph D. Gonzalez, Direktur Interfaith Evangelism North American Mission Board, Southern Baptist Convention, Alpharetta, Georgia. Ia menulis bahwa Southern Baptist menolak hak beragama semua orang. "Kami menolak bentuk pengabaran injil dengan cara paksaan, penyuapan, dan ancaman," tulisnya.

Surat yang lain ditulis Jeanne Bedeau Bernett dari McLean, Virginia. "Selaku putri seorang pengabar Injil yang bertugas di Mesir dan Irak selama 25 tahun," katanya, "saya sedih dan terpukul oleh sikap arogan dan agresif terhadap Islam yang dinyatakan sesama warga Kristen Amerika." Mempertalikan "jahat" hanya kepada Islam dan "baik" kepada Kristiani, katanya, menyimpang dari fakta sejarah.

Penelusuran koresponden GATRA di Ohio, Sukidi Mulyadi, mendapatkan contoh diktat panduan pelatihan (workbook training) evangelisme yang diselenggarakan AIM. Naskah 190-an halaman berjudul Middle East Evangelism Training itu memang menargetkan umat Islam sebagai sasaran pengabaran Injil. Isinya antara lain: "Pengantar tentang Islam", "Persamaan dan Perbedaan Islam-Kristen", "Dasar-dasar Evangelisme terhadap Kaum Muslim", serta "Peralatan bagi Evangelisme".

Wartawan GATRA juga menemukan sejumlah pamflet dan buku-buku yang ditujukan kepada kaum muslim. Semua itu didapat dari seorang alumnus pelatihan evangelis di Ohio. Ada pamflet yang mengiklankan buku Adha in the Injeel karya Fuad Issa, dengan jargon "Gunakanlah alat ini untuk membagikan imanmu kepada kaum muslim". Di bawahnya ada catatan: "Kini Islam adalah agama tercepat pertumbuhannya di Amerika Utara."


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Sun May 18, 2008 9:39 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Gerakan Penginjil Radikal "Bush"

Post  Admin on Sun May 18, 2008 9:36 pm



Dinamika evangelisme di Amerika itu juga menyulut reaksi sampai di Tanah Air. Beberapa khatib Jumat di Jakarta, dalam dua pekan terakhir, mengangkat isu tersebut sebagai bahasan khotbah. Seorang khatib di masjid milik PT Rekayasa Industri, Kalibata, Jakarta Selatan, dua pekan lalu, misalnya, memandang perkembangan ini sebagai pembenaran firman Allah dalam Al-Quran: "Yahudi dan Nasrani tak akan rela sampai kalian mengikuti agama mereka."

Munculnya reaksi di Jakarta bukan tanpa alasan. Sebab, cara kerja evangelis ala Amerika juga berkembang di Indonesia. Baru-baru ini, ada manuver Pendeta Muhammad Filemon dan Fachly Bahriuddin yang mengklaim telah membaptis KH Zainuddin MZ dan sejumlah anggota Laskar Jihad. Sebelumnya, ada Pendeta Suradi yang menerbitkan sejumlah buku dan majalah berisi hujatan terhadap berbagai keyakinan Islam.

Di Amerika sendiri, 30 Mei lalu berlangsung pertemuan antara Syamsi Ali, Wakil Imam Masjid Manhattan; Prof. Lucinda Mosher, pengurus General Theological Seminary; serta Uskup Mark Sisk Fo dari Katedral Saint John, New York. Menurut Syamsi, dalam pertemuan tersebut, diketahui bahwa mayoritas gereja Kristen Amerika, terutama gereja-gereja Episcopal, mengutuk keras pernyataan evangelis ekstremis Kristen tadi.

Mereka sependapat bahwa pernyataan para evangelis itu merupakan propaganda murahan dan upaya perongrongan kerukunan antarumat beragama. "Kita sepakat untuk memarjinalkan pergerakan ekstremis ini. Kami mengimbau kepada media massa untuk menjadi motor pendidikan yang baik. Kita menyayangkan ada media massa yang sengaja memberikan peluang kepada kelompok minoritas tapi berduit untuk melakukan propaganda murahan," demikian penjelasan Syamsi Ali tentang hasil pertemuan tersebut.

Ketika ditemui GATRA, juru bicara AIM, Pete Bitar, menyangkal bahwa lembaganya bermaksud mengkristenkan umat Islam. Mereka hanya memperkenalkan "cinta Kristus" kepada sesama, termasuk kaum muslim. "Kami tidak memaksa warga muslim mengerti ajaran Kristen dan membantu kaum Krustiani mengerti sesama saudaranya kaum muslim."

Dalam kursus dua pekan di AIM, yang biasa disebut Sahara Challenge, peserta malah diajari peran Nabi Muhammad dan pengenalan Sejarah Islam. "Mereka baru menyadari bahwa Islam dan Kristen banyak persamaan," ujar Bitar.

Aktivis perdamaian antaragaama, Dr. Djohan Effendi, melihat geliat evangelisme di Amerika sebagai hal biasa. Istilah fundamentalisme pun, menurut dia, berasal dari Kristen Amerika. Kini, mereka bangkit karena masyarakat mengalami "kekeringan rohani". Ironisnya, justru Islam dan Buddha yang tumbuh di sana memenuhi kekeringan itu.

Kaum evangelis pun bangkit. "Semangat evangelisme ini didasari niat luhur berbagi keselamatan," kata Djohan kepada Satrio Adhi Nugroho dari GATRA. "Mereka tak ingin hidup sendiri di surga. Maka mereka aktif menyebarkan pahamnya. Dan ini gejala pada semua agama," ujar mantan Menteri Sekretaris Negara ini.

Ahli perbandingan agama, Dr. Alwi Shihab, merasakan langsung keresahan banyak agamawan di Amerika akibat propaganda kaum evangelis. Sepanjang pekan lalu, peraih doktor dari Universitas Temple, Amerika, ini kebetulan diundang mengajar mistisisme Islam di Hartford Seminary, Conecticut. "Meski minoritas, kaum evangelis di sini memiliki kekuatan yang sangat diperhitungkan secara politik," kata Alwi Shihab kepada Alfian dari GATRA.

Mereka memiliki kedekatan dengan Presiden George W. Bush. "Sekeliling Bush banyak dipenuhi Kristen konservatif," Alwi memaparkan. "Itu bukan hanya kesan saya, melainkan juga teman-teman agamawan yang saya tanya di Hartford Seminary ini."Akibatnya, banyak kebijakan Bush yang justru bisa mengancam hubungan damai antaragama. Perlakuan terkesan diskriminatif terhadap imigran Islam dan Arab itu, menurut Alwi, ditangkap berbagai kalangan juga sebagai pengaruh Kristen konservatif.

"Kalangan Kristen moderat sini pun resah dengan kaum evangelis," kata Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa itu. Untuk memelihara ko-eksistensi antaragama, Alwi berpandangan, gerakan evangelis ini harus diluruskan. Tidak mesti dengan cara-cara frontal. "Kita ajak secara persuasif," katanya. Elemen moderat dari semua agama harus bekerja sama.

Asrori S. Karni, Didi Prambadi (Philadelphia), dan Syahrir Wahab (New York)

Agama Keras dan Lembut

Gatra : Pasca-tragedi World Trade Center, New York, 11 September 2001, umat Islam dikambinghitamkan. Kaum evangelis Amerika menuding Islam sebagai simbol kekerasan. Padahal, Islam adalah agama perdamaian. Berikut ini pandangan dua cendekiawan muslim terkemuka di Tanah Air.

Prof. Dr. Quraish Shihab:
Guru Besar Tafsir Al Qur'an

KESAN keras dalam Islam biasanya merujuk pada tahap penegakan hukum. Islam memberi sanksi hukum hanya jika terbukti kesalahannya. Bila tidak, Nabi menyarankan menghindari sanksi. Hukum rajam, misalnya, lebih bersifat ancaman ketimbang pelaksanaan.

Al-Qur'an nenetapkan sanksi bagi pezina, tetapi pada saat yang sama berpesan agar menjauhi tempat mesum. Tidak tepat melihat Islam sebagai simbol kekerasan dan Nasrani simbol kelembutan. Islam adalah sintesa dari Yahudi yang sangat keras dan Nasrani yang sangat halus. Islam adalah agama pertengahan. Ada saatnya keras, ada juga saatnya lembut.

Prof. Dr. Masykuri Abdillah :
Guru Besar Ilmu Politik Islam

ISLAM memang memerintahkan perang. Tapi perang dalam Islam untuk tujuan pertahanan. Sifatnya defensif, bukan ofensif. "Perangilah orang-orang yang memerangi kami," begitu firman Allah. Negeri yang didzalimi seperti Palestina dibenarkan melakukan perlawanan.

Memang ada sebagian umat Islam yang memahami jihad sebagai gerakan ofensif. Seperti dilakukan Osama bin Laden atau Imam Samudra. Hal seperti itu kita sayangkan. Kita juga menyayangkan sasaran bom bunuh diri pada kalangan sipil. Kalau itu ditujukan pada pangkalan militer lawan, bisa dibenarkan.

Dalam kondisi normal, Islam sangat menekankan perdamaian. Kata Islam sendiri berarti damai dan selamat.

Asrori S. Karni

Sumber GATRA

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Gerakan Penginjil Radikal "Bush"

Post  Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik