RAMALAN AMARGEDON

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:35 pm

RAMALAN AMARGEDON

Ramalan Tentang Armageddon
ARMAGEDDON – Apakah itu?

SEJAK istilah itu diucapkan oleh seorang yang dibuang di pulau Patmos lautan Egea,
manusia telah menafsir-nafsirkan arti dan maknanya.
Karena segala peristiwa dahsyat sudah mengancam peradaban umat manusia mereka bertanya “Inikah Armageddon ?”

Pada tanggal 28 juni tahun 1914, pembunuhan terhadap Archduke Ferdinand oleh dua patriot muda Bosnia telah menjerat bangsa-bangsa ke dalam Perang Dunia I yang sangat mengerikan.

Fortnightly Review (edisi London) menulis :
“Kita sudah melihat kebengisan dalam kekacauan universal yang penulis Wahyu lihat
dengan mata nubuatnya, menunjukkan kepada hari Tuhan yang besar itu.”
Satu generasi berikutnya, sesudah angkatan perang Adolf Hitler mengadakan blitzkrieg
sampai ke Rostov terus ke selatan menuju pegunungan Kaukasus dimana permulaan peradabandunia terjadi maka kembalilah pertanyaan dari berjuta-juta orang, “Sudahkah Armageddon tiba ?”

Dalam editorialnya majalah Life menulis,

“Bagaimanapun, peristiwa-peristiwa luar biasa ini adalah gema yang mengingatkan kita
kembali kepada rasul tua bangsa Ibrani yang berkata bahwa sekali kelak umat Kristen akanmenghadapi bala-tentara Anti Christ di Armageddon (Megiddo) di lembah-lembah PalestinaUtara. Meskipun hal ini belum terjadi, sekali kelak akan menjadi nyata. Dan dimanapun ituterjadi, artinya sama saja, kita harus berada disana.”
Pada waktu dunia memasuki babak Zaman Atom, sedikit waktu sebelum penyembelihanbesar-besaran Perang Dunia II selesai, pemusnahan peradaban laksana Armageddon sudahterbayang dan kemungkinanpun makin nyata. Pada hari itu ketika Kerajaan Jepang menyerah, Jendral Douglas MacArthur menyatakan :

“Suatu zaman baru terbentang dihadapan kita….. Kita telah memperoleh kesempatan yang terakhir. Jika kita tidak menciptakan alat-alat serta sistem yang lebih istimewa-modern maka Armageddon akan berada didepan hidung kita.”
Sejak pernyataan yang bersejarah itu, maka senjata-senjata dahsyat telah diciptakan demikian pula alat-alat pengangkut senjata tak-bermanusia ini dalam tugas mautnya dapat mencapai sasaran antar-benua.

Bekas Perdana Menteri Kruschev dalam konferensi persnya di Washington bulan
September 1959 berkata :

“Dalam abad kedua puluh ini manusia telah mengalami dua Perang Dunia dan kedua
perang ini telah membawa korban lebih banyak jiwa-jiwa manusia daripada perang
manapun sebelumnya. Sekarang manusia sudah dapat mengendalikan tenaga atom dan telah pula menciptakan roket-roket yang dapat mencapai ribuan kilometer dalam beberapa menit saja, serta menciptakan pesawat-pesawat tercepat di dunia sehingga kapal-kapal perang,tank-tank dari Perang Dunia II sekarang hanya merupakan permainan belaka yang akan menjerat dunia kita ke dalam Perang Dunia yang baru.”
“Perang harus dienyahkan sama sekali”,


kata bekas Presiden Eisenhower didepan Dewan Legislatif Brazilia sewaktu beliau
berkunjung ke Amerika Latin dalam tahun 1960. Beliau menambahkan :

“Dalam hampir setiap generasi bumi dinodai dengan darah. Sekarang peperangan tidak
akan menumpahkan darah tetapi akan mengosongkan bumi.”
Disamping keterangan-keterangan dari Pemimpin-Pemimpin Dunia, manusia tetap ingin tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari dan bertanya, “Apa selanjutnya ?” Sudahkah kemusnahan yang amat mengerikan itu mulai terjadi ? Siapakah dapat memberitahukan kepada kita arti zaman ini ?
Alkitablah yang dapat memberikan keterangan tentang zaman kita ini. Kitab terakhir ditulis dengan maksud untuk menunjukkan,

“Perkara-perkara yang tak dapat tiada akan jadi dengan segeranya”

(Wahyu 1 : 1)*
* = ayat-ayat Alkitab dikutip dari Alkitab salinan Klinker.
“Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.”

(Wahyu 1 : 1)
Kitab inilah yang memperkenalkan istilah Armageddon dan kitab ini pula yang memberikan tentang artinya.

Apakah Armageddon ?
UNTUK menjawab pertanyaan : “Apakah Armageddon itu ?, maka perlu sekali dibedakan antara konsep umum dan pemakaian istilah tersebut dalam arti Alkitab. Pada umumnya kata Armageddon dipergunakan untuk menerangkan Perang Besar yang terakhir. Tetapi dalam Alkitab istilah ini hanya ditujukan kepada suatu maksud tertentu.
Kata ini hanya disebut sebagai berikut :

“Arakian, maka dihimpunkannyalah segala raja itu dalam suatu tempat yang
bernama dengan bahasa Ibrani Armageddon”

(Wahyu 16 :16)
“Lalu Ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.”

(Wahyu 16 : 16)
Karena kata “Armageddon” hanya disebut sekali dalam kitab ini, maka oleh sebab itu kita mesti mencari keterangan umum mengenai arti istilah tersebut. Ayat-ayat lain yang berhubungan dengan peristiwa ini memberikan bantuan kepada artinya, namun demikian penyelidikan seksama harus dititik beratkan pada ayat tersebut untuk memulai mempelajari istilah itu.
Kata atau istilah ini terdapat dalam fasal yang menerangkan tentang masa penghukuman Allah terhadap penduduk sejagad dalam bentuk tujuh celaka yang dahsyat karena murka Allah telah sampai dan tirai sejarah umat manusiapun tertutup sudah ( lihat Wahyu 15 :1).
Malapetaka tersebut mengikuti suatu kampanye raksasa yang dipimpin oleh “binatang” dan“patungnya” untuk mengadakan persekutuan dengan segenap bangsa di dunia setelah mereka tunduk dan taat kepada propaganda-propaganda bulus dari mereka yang diwakili oleh simbolsimbol itu.

Armageddon terjadi pada bela keenam. Bela atau celaka atau malapetaka ini secara tahap demi tahap diterangkan oleh Rasul sebagai berikut :

“Maka malaikat yang keenam itupun mencurahkanlah isi pialanya ke dalam Efrat,
sungai besar itu, maka kekeringanlah airnya, supaya sedialah jalan bagi segala
raja-raja yang datang dari sebelah matahari terbit. Maka kulihat tiga orang
syaitan, serupa katak, keluar dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari
mulut nabi dusta itu. Karena mereka itulah roh iblis yang mengadakan beberapa
ajaib dan yang keluar mendapatkan segala raja dunia diatas seluruh muka bumi,
hendak dihimpunkannya mereka itu bagai perang pada hari besar Allah yang Maha
Kuasa itu. Bahwa sesungguhnya Aku akan datang seperti datangnya pencuri.
Berbahagialah orang yang berjaga-jaga dan memelihara pakaiannya, asal jangan ia
berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan malunya. Arakian, maka
dihimpunkannyalah segala raja itu dalam suatu tempat yang bernama dengan
bahasa Ibrani Armageddon”

(Wahyu 16 : 12 – 16)
“Dan malaikat yang keenam menumpahkan cawannya ke atas sungai yang besar, sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur. Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah yang Maha Kuasa. ‘Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.’ Lalu Ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.”




(Wahyu 16 : 12 – 16)
Sebelum menafsirkan fasal ini kita harus tahu bahwa Kitab Wahyu adalah kitab yang banyak berisi lambang atau simbol. Dihadapannya rasul melihat gambaran yang berubah dengan cepat seperti karikatur binatang-binatang, tanduk, naga, katak, orang syaitan, berbagai perempuan yang berhias, malaikat, manusia serta gambaran-gambaran dari berbagai makhluk. Ia diperintahkan”menulis perkara-perkara” dengan segenap kesanggupannya. Ia tidak menafsirkan apa yang sudah dilihatnya, ketujuh bela tafsiran itu adalah sebagian dari khayal yang dilihatnya. Arti daripada simbol-simbol ini diserahkan kepada pembaca untuk menafsirkannya.
Keterangan yang ia berikan tentang celaka keenam adalah gambaran yang nampak
dihadapannya dalam khayal, malaikat keenam mencurahkan bokornya yang berisi murka Allah ke atas bumi.
Keterangan yang lebih mendalam dari arti simbol ini tidak sempat kami muat disini, namun demikian beberapa hal dalam fasal ini secara sepintas dapat kami kemukakan sebagai berikut :
1. Perang ini bukan disebut Perang Armageddon, tetapi “perang pada hari besar Allah yang Maha Kuasa.”
2. Armageddon adalah tempat dimana bangsa-bangsa berhimpun untuk perang.
3. Bangsa-bangsa dari segenap penjuru dunia terlibat dalam perang ini.
4. Pengumpulan bangsa-bangsa ini dilakukan oleh suatu makhluk dengan cara gaib.
5. Dalam celaka keenam tidak disebut tentang adanya pertempuran hanya perhimpunan bangsa-bangsa.
Dengan demikian sebagaimana dikatakan dalam Alkitab, Armageddon bukanlah suatu perang melainkan tempat dimana bangsa-bangsa dunia berhimpun untuk “perang pada hari besar Allah yang Maha Kuasa.”
Dimanakah Armageddon ?
DIMANAKAH gerangan “tempat yang bernama dengan bahasa Ibrani Armageddon” ini ?
Nama ini tidak terdapat dalam bagian lain manapun dan juga dalam Alkitab.
Lebih jauh pengarang Wahyu menulis tulisan-tulisan aslinya dalam bahasa Yunani, tetapi ia memberi nama dan dimana bangsa-bangsa dikumpulkan itu dalam bahasa Ibrani dan menarik perhatian khusus kepada soal ini. Tempat itu “bernama dengan bahasa Ibrani Armageddon”. Tentu saja mesti ada alasannya. Oleh karena itu sebaiknya kita kembali kepada arti istilah tersebut dalam bahasa Ibrani. Ketika penyelidik-penyelidik Alkitab dengan pengetahuan tentang bahasa Ibrani mengadakan penyelidikan ini, mereka agak dibingungkan karena istilah ini tidak terdapat
dimanapun juga dalam Wasiat Lama bahasa Ibrani. Ada beberapa pendapat mengenai hal ini.
Kebanyakan penafsir berpendapat bahwa bahasa Yunani yang diterima umum dari kata
(Harmageddon) adalah dua kata Ibrani, Har dan Megiddo (atau Megiddon).
Har adalah istilah Ibrani yang umum dan terdapat lebih dari 500 kali dalam Alkitab (Kejadian
7 : 20; 8 : 4; Keluaran 3 : 1; dsb) dan berarti “gunung”.Megiddo diduga menunjukkan pada kota kuno yang letaknya dikaki bukit Karmel disebelah
barat laut Palestina. Kota ini disebut beberapa kali dalam (Yosua 12 :21; Hakim-Hakim 1 : 27; 5 :
19; 1 Raja-Raja 4 : 12; 9 :15; dsb), tetapi tidak ada dua kata ini, yaitu Har dan Meggiddo disatukan.
Megiddo asal mulanya adalah sebuah benteng Kanani yang kuat, tetapi kemudian diduduki oleh orang Mesir, lalu orang Pilistin dan pada zaman raja Daud dan Sulaiman, diduduki orang-orang Ibrani. Letak yang sebenarnya belum diketahui dengan tepat sampai diadakannya penggalianpenggalian.
Usaha ini mula-mula dilakukan oleh ekspedisi Jerman dibawah pimpinan G.
Schumacher dari tahun 1903 sampai 1905 dan kemudian ekspedisi Universitas Chicago dari tahun 1925 sampai 1939 dan menunjukan bahwa itu adalah Tell el Mutesellim yaitu sebuah lembah yang terkenal meliputi tiga belas tumbak. Seluruhnya ada dua puluh jajar yang ditemukan, antara lain :

¨Jajar Kesembilan : terletaklah kota tempat Thutmose III, seorang Raja Mesir yang
dikalahkan pada tahun 1482 S.T.M. Kota ini nampaknya mempunyai
sejarah yang panjang karena kesebelas sisanya menunjukkan sejarah
yang jauh ke belakang.
¨Jajar Kelima : menunjukkan pendudukan bangsa Pilistin atas kota itu pada zaman
Raja Saul memegang tampuk pemerintahan Israel.
¨Jajar Keempat : menunjukkan pendudukan bangsa Israel. Pada masa inillah kota itu
dibangun kembali, termasuk pembangunan dinding-dinding kota yang baru. Yang menonjol diantara bangungan-bangunan itu adalah kandang-kandang megah yang dapat menempati 500 kuda dan tanah datar cukup luas untuk 130 kereta perang, dengan satu istana yang indah (mungkin rumah kediaman gubernur), gedung lain lagi
mungkin rumah panglima.
¨Jajar-jajar lainnya yang lebih tinggi menunjukkan bahwa kota itu direbut diantara 450 dan 350 S.T.M. dan tidak pernah diduduki kembali.
Laporan-laporan tentang penggalian-penggalian ini dengan perkiraan bahwa kata Megiddo adalah akar kata dari istilah Armageddon.

majalah Life menulis :
“Orang Amerika secara umum mula-mula mendengar tentang Armageddon pada tahun 1912 ketika Theodore Roosevelt dari Partai Republik ditolak sebagai calon partainya dalam Konvensi Nasional perebutan kursi kepresidenan, dengan dramatis beliau berkata : ‘Kita berdiri dihadapan Armageddon dan kita berjuang untuk Tuhan’. Akhirnya beliau meninggal tanpa pernah mengetahui letak sebenarnya dari kota ini disekitar Palestina, sebagaimana dikatakan Alkitab, perang terakhir antara baik dan jahat akan segera berlangsung.”
Ketika tahun 1925 ekspedisi Oriental Institute dari Universitas Chicago menggali sebuah timbunan besar, barulah diketemukan letak Armageddon. Mereka menggali terus hingga menemukan 20 kota yang telah dibangun sepanjang 4000 tahun.
“Sebenarnya Armageddon adalah sebuah benteng yang menjaga sebuah jalan-pegunungan dimana sering terjadi pertempuran di Timur Tengah. Semasa damai daerah ini berkembang makmur. Jalan-jalannya ramai menjadi persinggahan kafilah-kafilah saudagar dari Mesir, Babilonia, Yerusalem dan Persia. Di Armageddonlah raja Sulaiman yang tersohor oleh karena kuda-kudanya daripada isteri-isterinya, membangun kandang-kandang megah yang cukup besar untuk menampung 450 kuda.

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:37 pm

Pada jajar kedelapan, para archeologis menemukan permata-permata Palestina yang paling berharga dalam tabungan yang berisi benda-benda seperti emas, electrum, gading, dan lapis lazuli.”

(majalah Life, 15 Agustus 1938)
Megiddo letaknya ditepi lembah Esdraelon, yaitu bukit Yezreel pada zaman Alkitab. Kota ini letaknya strategis di jalan pegunungan yang menghubungkan bukit Sharon dengan Lembah Esdraelon. Kota itu terletak di dekat dua persimpangan jalan. Satu jalan dari utara ke selatan, yakni ke utara menyusuri bukit Karmel dan ke selatan melalui bukit-bukit Samaria dan Yudah melalui bukit-bukit Sharon dan Pilistin. Jalan lainnya ke timur dan ke barat melalui lembah Esdraelon.
Lembah Esdraelon, yang terletak didekat ujung sebelah barat Megiddo, adalah tempat dari beberapa pertempuran penting dalam sejarah Israel.

Perang pertama setelah kemenangan bangsa Israel atas bangsa Kanani terjadi kira-kira pada pertengahan abad ke-13 S.T.M. Pada waktu itu 10.000 pasukan infantri bersenjata tidak lengkap dilatih dari 2 suku Israel menyerang gunung Tabor atas suatu pasukan Kanani yang lebih kuat dan terdiri dari 900 kereta besi terbentang penuh sepanjang tepi sungai Kishon. Allah memberikan kepada mereka (Israel) suatu tanda kemenangan, mungkin dengan mengirimkan sebuah banjir hingga menenggelamkan kereta-kereta itu karena nyanyian-kemenangan mereka menggema sebagai
berikut :

“Bahwa raja-raja telah datang lalu berperang. Pada masa itu berperanglah segala
raja Kanaan di Taanah ditepi Air Megiddo. Maka sekeping perakpun tiada
diperolehnya akan rampasan. Maka dari langit juga dilakukannya perang dan
segala bintang dari cakrawalapun memerangi Sisera. Bahwa sungai Kishon telah
menghanyutkan mereka itu, bahkan sungai Kishon yang sebaklah airnya.
Langsunglah, hari jiwaku! Dengan kuat.”

(Hakim-Hakim 5 : 19 – 21)
“Raja-raja datang dan berperang, pada waktu itu raja-raja Kanaan berperang dekat
Taanakh, pada mata air di Megiddo, tetapi perak sebagai rampasan tidak diperoleh mereka.
Dari langit berperang bintang-bintang, dari peredarannya mereka memerangi Sisera. Sungai Kison menghanyutkan musuh, Kison, sungai yang terkenal dari dahulu kala itu. – Majulah sekuat tenaga, hai jiwaku! –”

(Hakim-Hakim 5 : 19 – 21)
Pertempuran penting yang kedua terjadi dilembah yang sama 50 tahun kemudian. Kali ini adalah bangsa Midian. Suatu bangsa pengembara yang berdiam disebelah timur Yordan dan telah menindas bangsa Israel. Mereka menyeberangi sungai dan disertai ternak dan onta serta kemahkemah, mereka menyebar bagaikan hama disegenap tanah Israel. Ketika bangsa Israel berseru kepada Allah, maka Allah mengirimkan kepada mereka seorang pembebas, Gidion namanya.
Gidion memimpin satu pasukan kecil yang terdiri dari beberapa suku, oleh tuntunan Illahi dipilihnya 300 orang laskar. Dengan pasukannya ia turun dari kemah-kemah yang terletak diatas bukit Moreh pada malam hari dan menyerang bangsa Midian beserta sekutu-sekutunya yang menyebar luas dilembah-lembah. Sewaktu mereka mendekati kemah-kemah musuh merekapun meniupkan nafiri, berteriak, dan mengacungkan obor-obor api yang disembunyikan dalam kerudung-kerudung tanah.
Tentara Midian menjadi panik dan kacau balau saling membunuh kawan sendiri. Dan yang tersisa lari ke negeri asal mereka. (lihat Hakim-Hakim 5 dan 6) Makna simbolik dari Megiddo, bila dianggap sebagian dari istilah Armageddon, dapat berarti bahwa dahulu kala dilembah ini terjadi banyak peperangan. Juga ditafsirkan bahwa oleh karena suku pertama dari kata Ibrani : Har yang berarti “gunung”, dan bukan Megiddo, maka yang dimaksudkan gunung Megiddo adalah gunung atau bukit yang terletak disisi gunung Karmel dikaki gunung dimana terletak kota kuno itu. Di gunung inilah kontes besar diadakan antara nabi Elia dengan penyembah-penyembah Baal (1 Raja-Raja 18), dan peristiwa besar ini diselesaikan dengan cara seperi ini :

“Jikalau Tuhan itu Allah, baiklah kamu mengikuti Dia, tetapi jikalau kiranya
Baal, baiklah kamu mengikut dia”
(1 Raja-Raja 18 : 21)
“Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata : ‘Berapa lama lagi kamu berlaku
timpang dan bercabang hati ? Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.’ Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.”

(1 Raja-Raja 18 : 21)
Kontes ini adalah lambang dari pertentangan besar antara Kristus dan pengikut-pengikutNya melawan naga, binatang dan nabi-nabi palsu serta pengikut-pengikutnya yang dinyatakan dalam Kitab Wahyu dan yang berhimpun dalam “perang pada hari besar Allah yang Maha Kuasa itu”.
Menurut pendapat lain, istilah bahasa Ibrani dari Armageddon adalah har mo’ed, yang berarti “bukit perhimpunan” atau “bukit pertemuan”. Istilah ini terdapat dalam Yesaya 14 : 13 yaitu ayat dimana menunjukkan kesombongan Babel :
“katamu didalam hatimu demikian, bahwa aku hendak meninggikan tahtaku diatas
segala bintang Allah, dan duduk diatas bukit perhimpunan (har mo;ed)pada pihak
utara. Bahwa aku hendak naik tinggi daripada awan-awan dan menyamakan diriku
dengan yang MahaTinggi”

(Yesaya 14 : 13, 14)
“Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu : Aku hendak naik ke langit, aku hendak
mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!”

(Yesaya 14 : 13, 14)
Hal ini menunjukkan bahwa kata Ibrani yang terdapat dalam Wasiat Lama, bukanlah Har Megiddo, karena tidak ada kedua kata ini muncul disatukan bersama-sama. Sangat menarik bila dilihat dari segi ambisi-ambisi hendak berkuasa yang telah mencekam hidup Setan sejak kejatuhannya hingga ia bekerja keras dalam usaha-putus-asanya yang terakhir melawan Kristus.
Akan tetapi, ada suatu masalah yang mencakup perubahan satu kata atau huruf yang telah membingungkan para penafsir terhadap istilah itu.
Persiapan Bagi Armageddon
“MAKA malaikat yang keenam itupun mencurahkanlah isi pialanya ke dalam
Efrat, sungai besar itu, maka kekeringanlah airnya supaya sedialah jalan bagi
segala raja-raja, yang datang dari sebelah matahari terbit.”

(Wahyu 16 : 12)
“Dan malaikat yang keenam menumpahkan cawannya ke atas sungai yang besar, sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur.”
(Wahyu 16 : 12)

Gambaran ayat ini dipinjam dari Wasiat Lama, dimana kota kuno Babylon terletak di tepi sungai Efrat, tampak sebagai musuh besar umat Allah, dan menawan mereka itu, sebelum keruntuhannya. Nabi Yesaya meramalkan bahwa yang akan menjadi pelepas dari perhambaan adalah Kores (Cyrus) orang Persia (Yesaya 44 : 28 ; 45 : 1), dan menyatakan tentang dia,

“Siapa sudah membangkitkan dia dari masyrik yang bertemu dengan kebenaran
pada segala langkah-langkahnya. Siapa menyerahkan segala orang kafir dihadapan
hadiratnya dan memberi kuasa kepadanya atas raja-raja dan menyerahkan mereka
itu kepada pedangnya seperti duli dan kepada busurnya seperti jerami yang
diterbangkan.”
(Yesaya 41 : 2)
“Siapakah yang menggerakkan dia dari timur, menggerakkan dia yang mendapat
kemenangan di setiap langkahnya, yang menaklukkan bangsa-bangsa ke depannya dan menurunkan raja-raja ? Pedangnya membuat mereka seperti debu dan panahnya membuat mereka seperti jerami tertiup.”

(Yesaya 41 : 2)
Menurut Herodotus (I .191), raja “dari Masyrik” yang mengalahkan Babylon masuk ke dalam kota dengan jalan mengalihkan air sungai Efrat sehingga sungai yang melalui kota itupun keringlah.
Dalam Kitab Wahyu, Babylon dianggap sebagai salah satu simbol dari musuh umat Allah dekat masa kesudahan yang kejatuhannya diramalkan (Wahyu 14 : 8 ; 18 : 1 – 4) dan terlaksana (Wahyu 16 : 19 ; 18 : 5 – 24). Dalam menerangkan secara simbolis tentang kejatuhan Babylon maka pengarang Kitab Wahyu mengambil bayangan dari keterangan Wasiat Lama mengenai kejatuhan kota kuno itu.

“Maka aku tampak keluar dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut
nabi palsu itu, tiga roh yang najis, serupa katak; karena ketiganya itu roh setansetan
yang mengadakan beberapa keajaiban, yang pergi mendapatkan segala rajaraja
seluruh dunia hendak menghimpunkan mereka itu melawan pada hari yang
besar itu, yaitu Hari Allah yang Maha Kuasa.”

(Wahyu 16 : 13, 14)
“Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu
keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah roh-roh setan yang mengadakan
perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah yang Maha Kuasa.”

(Wahyu 16 : 13, 14)
Naga, binatang dan nabi palsu yang disebut dalam kitab Wahyu adalah simbol dari kekuatankekuatan politik dan agama bekerja aktif untuk melawan Kristus dan pengikut-pengikut-Nya yang setiawan, kendatipun memakai nama Kristus. Dalam malapetaka keenam rasul itu melihat roh-roh dahsyat keluar dari makhluk-makhluk itu mengadakan tanda-tanda ajaib. Dengan tanda-tanda ajaib itu mereka menipu bangsa-bangsa didunia dan menghimpunkan mereka bagi perang pada hari besar Allah. Mukjizat-mukjizat biasanya bersumber hanya pada Allah yang akan diberikan kepada umat menusia, tetapi disini dikatakan bahwa roh-roh dahsyatlah yang mengadakannya. Tujuannya adalah untuk menipu.
Kitab Wahyu dilain fasal menunjukkan tanda-tanda itu sebagai alat muslihat yang besar pada akhir zaman. Binatang menyerupai domba bertanduk dua – simbol lain yang ditonjolkan dalam kitab ini,

“Maka disesatkannya segala orang yang duduk diatas bumi dengan segala perkara
ajaib yang diberi kepadanya akan dilakukan dihadapan binatang itu … yang kena
luka pedang dan yang telah hidup pula. Maka diberi pula kepadanya
menghidupkan patung binatang itu supaya patung binatang itu dapat berkata-kata
dan mengadakan matinya segala orang yang tidak mau menyembah patung
binatang itu”

(Wahyu 13 : 14, 15)
“Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan
kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh.”

(Wahyu 13 : 14, 15)
Disini diterangkan tentang orang yang mengetahui tipu muslihat itu dan yang menolak hendak menyembah patung binatang itu diancam mati.
Yesus juga memperingatkan tentang tipu muslihat tanda-tanda ajaib. Melihat ke masa depan sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali Ia berkata,
“Karena beberapa Almasih dusta dan nabi dustapun akan bangkit dan mengadakan
beberapa mukjizat besar-besar dan ajaib, sampai kalau boleh orang pilihanpun
hendak disesatkannya. Maka ingatlah bahwa Aku telah mengatakan ini kepadamu
terdahulu.”

(Matius 24 : 24, 25)
“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan
mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mukjizat-mukjizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.”

(Matius 24 : 24, 25)
Selanjutnya Ia memperingatan bahwa mujizat akan dilakukan dengan nama-Nya oleh orang-orang yang Ia tidak pernah kenal.

“Maka pada hari itu banyak orang berkata kepada-Ku demikian, ‘ya Tuhan, ya
Tuhan bukankah dengan kuasa nama-Mu juga kami telah mengajar? Dan dengan
kuasa nama-Mu pun kami telah membuangkan syaitan? Dan dengan kuasa-Mu pun
kami telah mengadakan beberapa mujizat? Tetapi pada masa itu kata-Ku kelak
kepada mereka itu dengan nyata-nyata; bahwa sekali-sekali tiada Aku mengenal
kamu, nyahlah dari hadapan-Ku, hai orang yang berbuat jahat”

(Matius 7 : 22, 23)
“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku : Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

(Matius 7 : 22, 23)
Rasul Paus memberi ramalan terhadap mujizat-mujizat sebagai alat untuk menipu. Dalam menjelaskan usaha-usaha muslihat dari Anti-Christ yang disebutnya “si orang dosa” dan “anak kebinasaan”, ia menyatakan sebagai :

“yang mengatas-ataskan dirinya daripada segala yang dinamai ilah atau suci,
sehingga didudukkannya dirinya dalam kaabat Allah dengan menampakkan dirinya
ilah adanya”

(2 Tesalonika 2 : 4)
“yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah.
Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.”

(2 Tesalonika 2 : 4)
Ia (rasul Paus) meramalkan bahwa kedatangannya (pendurhaka) adalah sbb :
“Ia itu dia yang datang dengan perbuatan syaitan, dengan segala kuat dan tanda
dan mujizat bohong. Dan dengan segala tipu kejahatan dalam hati orang yang
akan binasa, sebab mereka itu tiada menerima pengasihan kebenaran supaya


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:46 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:37 pm

beroleh selamat. Maka sebab itu didatangkan Allah bagi mereka itu suatu kuasa
penipu, supaya mereka itu percaya akan dusta. Supaya dihukumkan segala mereka
yang tiada percaya akan kebenaran melainkan yang berkenan akan jahat”

(2 Tesalonika 2 : 9 – 12)
“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa
perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.”

(2 Tesalonika 2 : 9 – 12)
Ini tampak jelas dari simbol yang tertera dalam penjelasan Wahyu :

Organisasi-organisasi tertentu baik dari golongan agama maupun unsur-unsur politik yang kelihatannya mempunyai pengaruh internasional, akan bergabung dan berusaha mengusai dunia dengan pengaruh total atas pikiran dan tindakan manusia. Mereka berusaha mencapai cita-citanya itu dengan mujizat-mujizat tipu muslihat. Bahwa mujizat-mujizat ini bukan hanya mujizat-mujizat picisan dan terbukti dari banyaknya bangsa-bangsa yang akan terperdaya. Mujizat-mujizat murahan tidak mempengaruhi pikiran-pikiran kaum intelek modern. Pikiran-pikiran ini telah lama menolak kemungkinan adanya kuasa-kuasa gaib.

Tetapi bila dihadapkan dengan keajaiban-keajaiban luar biasa yang diciptakan oleh
makhluk-makhluk dahsyat, yang tidak dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan maka
mereka itupun terpaksa tunduk terhadap apa yang tampak kepada mereka itu sebagai faktafakta
yang tak dapat disanggah. Dan sebagai hasilnya “Dihimpunkannya mereka itu bagi
perang pada hari besar Allah yang Maha Kuasa itu”.
“Bahwa sesunguhnya Aku akan datang seperti datang pencuri. Berbahagialah
orang yang berjaga-jaga dan memelihara pakaiannya, asal jangan ia berjalan
dengan telanjang dan jangan kelihatan malunya”

(Wahyu 16 : 15)
“Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang
memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan
kelihatan kemaluannya.”

(Wahyu 16 : 15)
Ramalan dan peringatan ini diselipkan diantara keterangan persiapan bagi Armageddon. Hal ini menunjukkan apabila peristiwa mendadak ini terjadi, Yesus Kristus akan segera datang. Hal ini mendesak pengikut-pengikut-Nya supaya berjaga-jaga, karena kalau bukan demikian niscaya mereka itu akan tertipu oleh gerakan-gerakan yang akan menawan semua orang kecuali kaum kecil yang dianiaya karena menolak untuk menyembah patung binatang itu, sebab :

“iapun akan disembah oleh segala orang yang duduk diatas bumi, yang namanya
tiada daripada alasan bumi, telah disuratkan dalam kitab ‘Ihayat Anak Domba
yang telah disembelih itu’.”

(Wahyu 13 : 8)
“semua orang yang diam diatas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.”

(Wahyu 13 : 8)
Demikian hebatnya peristiwa-peristiwa dari patung binatang yang timbul sehingga Allah
memberikan peringatan yang keras. Ia mau agar pihak-pihak yang terlibat dalam pertentangan besar ini tampak jelas kepada umat manusia.

“Jikalau barang seorang menyembah binatang dan patungnya serta menerima
tanda itu pada dahinya atau pada tanganya maka tak dapat tiada orang itu kelak
minum juga daripada air anggur murka Allah yang telah tertuang dengan tiada
bercampur ke dalam piala murka-Nya, maka iapun akan disengsarakan dengan api
dan belerang dihadapan segala malaikat yang suci dan dihadirat Anak Domba itu.”

(Wahyu 14 : 9 – 11)
“Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring : ‘Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya, maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya: dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya’.”

(Wahyu 14 : 9 – 11)
Perang Armageddon
SEPANJANG malapetaka yang keenam, terjadi persiapan perang dan perhimpunan rajaraja dari segenap penjuru dunia untuk “perang pada hari besar Allah yang Maha Kuasa”. Kepada rasul Yohanes tidak ditunjukkan adanya pertempuran. Pemandangan terakhir mengenai malapetaka keenam diterangkan sbb :

“Maka dihimpunkannyalah segala raja itu dalam suatu tempat yang bernama
dengan bahasa Ibrani Armageddon”


(Wahyu 16 : 16)
“Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon”

(Wahyu 16 : 16)
Perang terjadi pada bela atau malapetaka keenam. Rasul Yohanes menjelaskan bela terakhir ini sbb

“Maka malaikat yang ketujuh itupun mencurahkanlah isi pialanya ke udara, lalu
keluarlah suatu suara yang nyaring dari dalam kaabah yang di Sorga dari pihak
arasy itu mengatakan : ‘Telah jadi.’ Maka adalah bunyi beberapa suara dan petir
dan kilat dan jadilah gempa besar, maka yang demikian belum pernah jadi selama
ada manusia di atas bumi, yaitu gempa yang begitu besar. Maka negeri besar itu
telah terbagi tiga dan segala negeri orang kafirpun rubuhlah. Maka negeri Babel
yang besar itupun menjadi peringatan dihadirat Allah akan diberikan kepadanya
piala anggur garang murka-Nya. Maka segala pulaupun terbanglah dan segala
gunungpun tiada terdapat lagi. Maka hujan batu yang besar-besar, satu-satu
beratnya setalenta itu turun dari langit menimpa manusia, maka segala
manusiapun menghujatlah akan Allah sebab bela hujan batu itu, karena bela itu
amat besarlah adanya.”

(Wahyu 16 : 17 – 21)
“Dan malaikat yang ketujuh menumpahkan cawannya ke angkasa. Dan dari dalam Bait Suci kedengaranlah suara yang nyaring dari takhta itu, katanya : ‘Sudah terlaksana.’ Maka memancarlah kilat dan menderulah bunyi guruh, dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu. Lalu terbelahlah kota besar itu menjadi tiga bagian dan runtuhlah kota-kota bangsabangsa yang tidak mengenal Allah. Maka teringatlah Allah akan Babel yang besar itu untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya. Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung. Dan hujan es besar,

seberat seratus pon, jatuh dari langit menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah
karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.”

(Wahyu 16 : 17 – 21)
Masa yang dahsyat telah tiba. Masa percobaan bagi manusia dan bangsa-bangsa telah ditutup.
Sejarah umat manusia tertutup sudah. Ditengah kekacauan maka batu-batu besar menimpa atas bangsa-bangsa yang telah menghimpun kekuatan-kekuatan anti-Kristennya terhadap Allah.
Dalam kata-kata lain dari nubuat rasul Yohanes ditunjukkan drama yang sama yaitu peristiwa klimaks. Dalam khayal dari fasal 17 ia diberi tahu,

“Maka sepuluh tanduk yang kau lihat itu, yaitu sepuluh orang raja yang belum lagi
beroleh kerajaan, tetapi pada satu jam juga akan diperolehnya kuasa kerajaan
serta dengan binatang itu. Maka mereka itu sepakat juga dan mereka itu akan
menyerahkan kuat kuasanya kepada binatang itu. Maka mereka itu akan
memerangi Anak Domba itu dan Anak Domba itupun akan mengalahkan dia, karena
Ialah Tuannya segala tuan dan Rajanya segala raja, maka adapun orang yang
sertanya itulah orang yang dijemput dan dipilih dan yang setiawan adanya.”

(Wahyu 17 : 12 – 14)
“Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu adalah sepuluh raja, yang belum mulai
memerintah, tetapi satu jam lamanya mereka akan menerima kuasa sebagai raja, bersamasama dengan binatang itu. Mereka seia sekata, kekuatan dan kekuasaan mereka, mereka berikan kepada binatang itu. Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”

(Wahyu 17 : 12 – 14)
dalam khayal fasal 19 ia melihat Kristus, duduk di atas sebuah kuda putih, memimpin bala tentara dari Sorga :

“Maka kulihat langit terbuka, maka heran adalah seekor kuda putih, dan yang
mengendarainya itu disebut ‘Setiawan dan Benar’, maka Ia menghukumkan dan
melakukan perang dengan adilnya. Maka mata-Nya bagai api bernyala-nyala dan di
atas kepala-Nya adalah banyak mahkota; dan padanya adalah tersurat suatu nama
yang tiada diketahui oleh barang seorang juapun, melainkan Ia sendiri juga yang
mengetahuinya. Maka Ia berpakaian jubah yang tercelup dalam darah dan nama-
Nyapun disebut ‘Kalam Allah.’ Maka segala bala tentara yang di Sorgapun
mengiringkan Dia dengan mengendarai kuda putih serta berpakaian kain chasah
halus yang putih lagi bersih. Maka daripada mulut-Nya keluarlah sebilah pedang
yang tajam, supaya dengan Dia diparangkanya segala orang kafir; maka akan
digembalakan-Nya mereka itu dengan tongkat besi; dan Iapun mengirik apitan
anggur garang dan murka Allah yang Maha Kuasa.”

(Wahyu 19 : 11 – 15)
“Lalu aku melihat Sorga terbuka : sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang
menungganginya bernama : ‘Yang Setia dan Yang Benar’, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah : ‘Firman Allah.’
Dan semua pasukan yang di Sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan
memakai kain lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Maha Kuasa.”


(Wahyu 19 : 11 – 15)
Disini diterangkan tentang suatu penyerbuan dari angkasa luar karena Kristus bersama
malaikat-malaikat-Nya, sebagai makhluk-makhluk semawi, akan datang ke dunia melalui angkasa raja. Mudahlah untuk dimengerti bagaimana bangsa-bangsa yang tersebar di dunia akan menghimpun kekuatan angkatan perangnya dalam pertahanan bersama bila bumi diserbu.
Musuh-musuh Kristus diterangkan sebagai berikut,

“Maka kulihat binatang itu serta dengan segala raja yang di bumi dan segala bala
tentaranya itu berhimpun hendak berperang dengan Dia, yang mengendarai kuda
itu dan dengan bala tentara-Nya.”

(Wahyu 19 : 19)
“Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah
berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya.”

(Wahyu 19 : 19)
Tetapi semua roket-roket hyper-modern yang dilengkapi dengan kepala nuklir yang paling dahsyatpun tidak akan berdaya menahan kedatangan Raja segala raja apabila Ia menyerbu. Karena hasil peperangan itu telah ditentukan lebih dahulu;

“Maka binatang itupun tertangkaplah dan sertanya nabi dusta itupun yang
mengadakan dihadapannya segala perkara ajaib dan yang membujuk segala orang
yang telah memakai tanda binatang itu dan yang menyembah patungnya. Maka
dua-dua itu dicampak dengan hidupnya ke dalam telaga api yang bernyala-nyala
dengan belerang, maka segala yang lagi tinggal dibunuh dengan pedang, yang
keluar daripada mulut Dia, yang mengendarai kuda itu; maka kenyanglah segala
unggas itu oleh memakan dagingnya.”

(Wahyu 19 : 20, 21)
“Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah
mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya.
Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.
Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.”

(Wahyu 19 : 20, 21)
Pemusnahan besar itu dilukiskan sebagai berikut :

“’Perjamuan Allah yang besar’ dan segala unggas yang terbang berkerumun untuk
memakan daging segala raja dan daging segala penghulu orang seribu dan daging
segala orang gagah dan daging segala kuda serta dengan orang yang


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:46 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:38 pm

mengendarainya dan daging segala manusia baik merdeka baik hamba daripada
kecil dan besar.”

(Wahyu 19 : 17, 18)
“Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya : ‘Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar, supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar’.”

(Wahyu 19 : 17, 18)
Hebatnya pembinasaan itu digambarkan dalam ayat lain pula. Segala kaum yang jahat di dunia ini diumpamakan dengan gugus anggur yang telah tua yang dikerat oleh seorang malaikat lalu dicampakkan ke dalam apitan anggur besar murka Allah itu. Lalu apitan anggur itu dipijak-pijak diluar negeri, maka daripada apitan itu keluarlah darah sampai dikang kuda tingginya dan seribu enam ratus pemanah jauhnya.

(lihat Wahyu 14 : 19, 20)
“Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah. Dan buah-buah anggur itu dikilang di luar kota dan dari kilangan itu mengalir darah, tingginya sampai ke kekang kuda dan jauhnya dua ratus mil.”

(Wahyu 14 : 19, 20)
Dengan berbagai simbol dan gambaran yang jelas, Kitab Wahyu melukiskan tentang “perang pada Hari Besar Allah yang Maha Kuasa”. Kita ingin mengetahui seluk-beluk selanjutnya dan barangkali kita pula coba hendak meraba-raba beberapa peristiwa lain mengenai perang itu dari gambaran simbolik yang berbagai rupa seperti yang dilihat oleh rasul Yohanes (Yahya). Tetapi disini kita menghadapi nubuat yang belum digenapi dan yang terbaik dalam hal ini adalah mempelajari simbol-simbol ini lebih mendalam daripada membiarkan perkembanganperkembangan membuktikan sendiri dengan tepat.

Peristiwa-Peristiwa yang Berhubungan
dengan Armageddon
SUATU yang berhubungan dengan ayat-ayat suci teristimewa ayat-ayat yang menyebut
sejarah harafiah tentang peperangan dan mengenai peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan itu, lebih menerangi secara simbolisasi dari Kitab Wahyu dan memberi kesimpulan dari gambaran perang tersebut.
“Perang pada Hari Besar Allah yang Maha Kuasa itu” akan terjadi seperti yang telah tertulis apabila Yesus Kristus turun dari Sorga sebagai pemenang yang berkuasa atas musuh-musuh-Nya.
Kedatangan Yesus Kristus ke bumi adalah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah ruangangkasa dan menjadi pokok utama dari Kitab Suci. Sejak mula pertamanya dosa masuk ke dunia, membawa malapetaka kesengsaraan, maka manusia berseru :
“Berapa lama lagikah, Oh Tuhan, Dikau mengangkat kutuk ini dan memusnahkan mereka yang membinasakan bumi? ”
Hampir setiap penulis Kitab Suci memberi kepastian bahwa sekali kelak Allah akan campur tangan dalam persoalan-persoalan manusia, membawa ketenteraman bagi kekacauan dan menetapkan perdamaian semesta dan keadilan.
Yang pertama sekali menyatakan mengenai hal ini, daripada-Nya kita mempunyai catatan, yaitu : Henoch, salah seorang nenek moyang kita dari zaman purba. Yahuda menulis tentang dia selagi ia bernubuat,

“Bahwa sesungguhnya Tuhan telah datang dengan orang saleh-Nya beribu-ribu
akan membawa penghukuman atas segala orang dan akan menyiksakan segala
orang fasik di antara mereka itu, sebab segala perbuatannya yang durhaka yang
telah dibuatnya dengan busuknya dan segala perkataan karena yang dikatakan
oleh segala orang fasik, yang berdosa itu melawan akan Dia”

(Yahuda 14 : 15)
Nabi-nabi Wasiat Lama yang meninjau peristiwa ini dari segi maksud-maksud Allah bagi Israel dahulu kala, melihat campur tangan Allah dengan cara yang dramatis demi kepentingan umat-Nya, terhadap mana satu rombongan bangsa-bangsa kafir telah berhimpun.

Kata nabi Yesaya :
“Maka sesungguhnya negeri itu dihampakan dan disunyikan oleh Allah, dibalik
belahnya akan dia dan dicerai-beraikannya segala orang isinya. . . . Bahwa negeri
itu dihampakan sekali-kali karena Tuhan juga yang sudah berfirman demikian”

(Yesaya 24 : 1 – 3)
“Sesungguhnya, Tuhan akan menanduskan bumi dan akan menghancurkannya, akan
membalikkan permukaannya, dan akan menyerakkan penduduknya. Maka seperti nasib
rakyat demikianlah nasib imam, seperti nasib hamba laki-laki demikianlah nasib tuannya, seperti nasib hamba perempuan demikianlah nasib nyonyanya, seperti nasib pembeli demikianlah nasib penjual, seperti nasib peminjam demikianlah nasib yang meminjamkan, seperti nasib orang yang berhutang demikianlah nasib orang yang berpiutang. Bumi akan ditanduskan setandus-tandusnya, dan akan dijarah sehabis-habisnya, sebab Tuhanlah yang mengucapkan firman ini.”

(Yesaya 24 : 1 – 3)
Nabi Yesaya menambahkan :
“Bahwa bumi itu berpecah-pecah! Bumipun berbelah-belah, bumipun bergoncang
dan bergempalah! Bumipun terhuyung-huyung seperti mabuk dan bergoncanggoncang
seperti pondok tempat orang bermalam, karena beratlah kesalahannya menindih kepadanya, sehingga ia rebah dan tiada dapat bangkit pula. Karena pada hari itu sesungguhnya Tuhan juga akan mendatangkan pembalasan atas tentara yang tinggi diketinggian dan atas segala raja dunia yang di atas bumi; mereka itu
sekalian akan dikumpulkan bersama-sama akan diikat dalam keluburan dan
dikurungkan dalam penjara dan kemudian dari pada beberapa-beberapa hari
mereka itu dipanggil akan disiksa”

(Yesaya 24 : 19 – 22)
“Bumi remuk redam, bumi hancur luluh, bumi goncang-gancing. Bumi terhuyung-huyung sama sekali seperti orang mabuk dan goyang seperti gubuk yang ditiup angin; dosa pemberontakannya menimpa dia dengan sangat, ia rebah dan tidak akan bangkit-bangkit lagi. Maka pada hari itu Tuhan akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi. Mereka akan dikumpulkan bersama-sama, seperti tahanan dimasukkan dalam liang; mereka akan dimasukkan dalam penjara dan akan dihukum sesudah waktu yang lama.”

(Yesaya 24 : 19 – 22)
Kata nabi Yeremia :
“Bunyinya akan sampai kepada ujung bumi karena Tuhan menyelesaikan acara
segala bangsa dan memutuskan hukum atas segala manusia; maka diserahkannya
kelak orang fasik kepada pedang, demikianlah Firman Tuhan. Dan lagi Firman
Tuhan semesta alam sekalian demikian : Bela itu akan langsung daripada bangsa
datang kepada bangsa; dan suatu tofan akan turun dari ujung langit. Maka pada
hari itu mayat segala orang sudah dibunuh oleh Tuhan itu akan terhantar daripada
ujung bumi datang kepada ujungnya; sebiji ratappun tiada diangkat atasnya,
mayatnya tiada akan diangkat atau dikuburkan, melainkan sekalian itu akan
menjadi pupuk pada bumi”

(Yeremia 25 : 31 – 33)
“Deru perang akan sampai ke ujung bumi, sebab Tuhan mempunyai pengaduan terhadap bangsa-bangsa; Ia akan berperkara dengan segala makhluk : Orang-orang fasik akan diserahkan-Nya kepada pedang, demikianlah firman Tuhan. Beginilah firman Tuhan semesta alam : Sesungguhnya, malapetaka akan menjalar dari bangsa ke bangsa, suatu badai besar akan berkecamuk dari ujung-ujung bumi. Maka pada hari itu akan bergelimpangan orangorang yang mati terbunuh oleh Tuhan dari ujung bumi sampai ke ujung bumi. Mereka tidak akan diratapi, tidak akan dikumpulkan dan tidak akan dikuburkan; mereka akan menjadi pupuk di ladang.”

(Yeremia 25 : 31 – 33)
Nabi Yehezkiel melihat bangsa-bangsa kafir berhimpun dipimpin oleh Dyudy,
“hendak menudungi muka tanah seperti awan-awan. . . . Maka akan jadi pada hari
itu, demikianlah Firman Tuhan Hua, bahwa kehangatan murka-Ku akan berbangkit
dari hadapan hadirat-Ku; bahwa dengan gairah-Ku dan dengan kehangatan murka-
Ku sudah Aku berfirman : Masakan tiada pada hari itu suatu gempa bumi yang
amat keras di tanah Israel! Sehingga gentarlah segala ikan di laut dan segala
unggas di udara dan segala margasatwa dipadang dan segala binatang yang melata
di atas bumi dan segala manusia di atas bumi dihadapan hadirat-Ku; maka segala
gunungpun akan tenggelam dan segala bukit batu yang curampun akan runtuh dan
segala pagar tembokpun akan rubuh ke bumi. Dan Aku akan memanggil pedang
datang atasnya pada segala gunung-Ku, demikian Firman Tuhan Hua; pedang
masing-masing orang akan melawan saudaranya. Dan Aku akan menghukumkan dia
dengan bela (malapetaka) sampar dan tumpahan darah dan dengan hujan yang
terlampau deras dengan hujan air beku yang besar dan dengan api dan belerang,
Aku akan menghujani dia dan segala balanya dan kebanyakan bangsa yang
sertanya. Dan Aku akan mempermuliakan diri-Ku dan menguduskan diri-Ku dan
menyatakan diri-Ku kepada mata segala bangsa kafir dan akan diketahuinya
bahwa Aku ini Tuhan”

(Yehezkiel 38 : 16 – 23)
“Engkau bangkit melawan umat-Ku Israel seperti awan yang menutupi seluruh bumi. Pada hari yang terkemudian akan terjadi hal itu dan Aku akan membawa engkau untuk melawan tanah-Ku, supaya bangsa-bangsa mengenal Aku, pada saat Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu dihadapan mereka, hai Gog. Beginilah firman Tuhan Allah : engkaulah ini tentang siapa Aku sudah berfirman pada hari-hari dahulu kala dengan perantaraan hamba-hamba- Ku, yaitu nabi-nabi Israel, yang bertahun-tahun bernubuat pada waktu itu, bahwa Aku akan membawa engkau melawan umat-Ku. Pada waktu itu, pada saat Gog datang melawan tanah Israel, demikianlah firman Tuhan Allah, amarah-Ku akan timbul. Dalam murka-Ku, dalam cemburu-Ku dan dalam api kemurkaan-Ku Aku akan berfirman : Pada hari itu pasti terjadi gempa bumi yang dahsyat di tanah Israel. Ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, binatang-binatang hutan, segala binatang melata yang merayap di bumi dan semua manusia yang ada di atas bumi akan gentar melihat wajah-Ku. Gunung-gunung akan runtuh, lereng-lereng gunung akan longsor dan tiap tembok akan roboh ke tanah. Dan Aku akan memanggil segala macam kekejutan terhadap Gog, demikianlah firman Tuhan Allah, sehingga pedang seorang akan memakan yang lain. Aku akan menghukum dia dengan
sampar dan tumpahan darah; Aku akan menurunkan hujan lebat, rambun, api dan hujan belerang ke atasnya dan ke atas tentaranya dan ke atas banyak bangsa yang menyertai dia.
Aku akan menunjukkan kebesaran-Ku dan kekudusan-Ku dan menyatakan diri-Ku di hadapan bangsa-bangsa yang banyak, dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan.

(Yehezkiel 38 : 16 – 23)
Kepada nabi Yoel juga ditunjukkan sebuah khayal tentang masa itu :
“Serukanlah ini di antara segala orang kafir : Berlengkaplah kamu akan berperang;
jagakanlah segala pahlawan; hendaklah mereka itu datang hampir, hendaklah
berjalan segala laskar. Tempakanlah olehmu segala cangkulmu jadi pedang dan
segala sabitmu jadi mata lembing; hendaklah orang lemah juga mengaku dirinya
pahlawan. Berkerumunlah kamu bersama-sama hai bangsa daripada segala pihak,
berhimpunlah kamu; maka di sanapun Tuhan akan merebahkan segala
pahlawanmu. Biarlah segala bangsa itu bangkit lalu berangkat ke lembah Yosafat,
maka di sana akan Aku duduk menghukumkan segala bangsa dari segala pihak.
Suruhkanlah penyabit, karena segala buah-buahnya sudah masak; marilah,
pijaklah apitan anggur, karena penuhlah ia dan segala tempat air anggurpun
sebaklah! Besarlah, besarlah juga kejahatan mereka itu. Berkelompok-kelompok
mereka itu terhantar di lembah gunung pengirikan, karena hampirlah Hari Tuhan
di lembah gunung pengirikan itu. Bahwa matahari dan bulan menjadi gelap dan
cahaya segala bintangpun padamlah! Karena Tuhan-pun menderu dari dalam Sion,
dinyaringkannyalah suara-Nya dari dalam Yerusalem, sehingga tergoncanglah
langit dan bumi; tetapi bagi umat-Nya Tuhan juga akan suatu perlindungan dan
akan tetap kuat bani Israel.”

(Yoel 3 : 9 – 16)
Daniel melihat pada masa Allah raja semesta alam, akan mendirikan sebuah kerajaan,
“yang pada selama-lamanya tiada dapat dibinasakan, maka kerajaan itu tiada
akan diserahkan kepada salah satu bangsa yang lain, dan Ia itupun akan
menghancurkan segala kerajaan itu, tetapi Ia sendiri akan kekal sampai selamalamanya”

(Daniel 2 : 44)
“Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-selamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya,”

(Daniel 2 : 44)
Dalam khayal yang membentangkan masa yang akan datang ia melihat Anak Manusia dating dengan awan-awan kepada Yang Tiada Berkesudahan harinya,
“Maka dikaruniakan kepadanya pemerintahan dan kemuliaan dan kerajaan itu,
maka segala bangsa dan kaum dan orang yang berbagai-bagai bahasanyapun
berkidmat kepadanya; maka pemerintahannya kekal dan kerajaannyapun tiada
terbinasakan”

(Daniel 7 : 14)
“Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya.
Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

(Daniel 7 : 14)
Demikianlah dalam Kitab Perjanjian Lama terdapat pernyataan-pernyataan jelas menyatakan bahwa pada satu hari kelak Allah akan memperhitungkan segala kejahatan dosa. Bangsa-bangsa berperang dengan Allah, ya, semua kerajaan-kerajaan di dunia, akan diganti dengan kerajaan Allah, satu kerajaan abadi dimana damai dan keadilan memerintah – satu kerajaan dimana warga negaranya terdiri dari orang-orang suci, dimana orang berdosa tiada tempat. Sepanjang zaman manusia telah menunggu dengan rindu akan kegenapan dari ramalan-ramalan tentang satu hari yang
bahagia itu.


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:47 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:39 pm

Dalam Kitab Perjanjian Baru kita mempunyai kesaksian Yesus Kristus sendiri, serta muridmurid- Nya. Tentu sekali, apabila ada seseorang yang harus dapat memberikan keterangan resmi mengenai soal yang menentukan, dramatis, dari campur tangan Ilahi dalam persoalan umat manusia maka itulah Yesus. Suatu penyelidikan akan pengajaran-pengajaran-Nya menunjukkan bahwa Ia berbicara berulang- kali dengan jelas mengenai hal ini. Ia malah membikin hal itu menjadi titik pusat pengajaran-Nya. Pada kedatangan penjelmaan-Nya maka harapan-harapan makin kuat bahwa
kerajaan yang disebut oleh penulis-penulis Perjanjian Lama akan didirikan. Tetapi Yesus menjelaskan bahwa bukanlah itu maksud kedatangan-Nya yang pertama. Kedatangan-Nya itu membawa reformasi kerohanian dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan. Tetapi Ia juga menegaskan bahwa Ia akan kembali untuk menggenapi harapan-harapan semula.
Salah satu daripada pernyataan-Nya yang paling jelas tercatat dalam
Yohanes 14 : 1 – 3.
Murid-murid-Nya merasa susah ketika Ia memberitahu bahwa Ia akan meninggalkan mereka untuk beberapa waktu lamanya, tetapi mereka merasa terhibur oleh ucapan-Nya,

“Janganlah diberi hatimu terharu, percayalah akan Allah dan percayalah akan
Daku juga! Di dalam rumah Bapa-Ku adalah banyak tempat kediaman; jikalau
tiada demikian niscaya sudah Aku katakan kepadamu; karena Aku pergi
menyediakan tempat bagimu. Dan jikalau Aku pergi serta sudah menyediakan
tempat bagimu itu, Aku akan kembali lalu menyambut kamu datang kepada-Ku,
supaya di tempat Aku ini ada, di situ juga kamu ada.”

(Yohanes 14 : 1 – 3)
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”

(Yohanes 14 : 1 –3)
Ayat Kitab Suci ini tidak menyatakan bahwa maksud kedatangan-Nya yang kedua kali itu hanya untuk menghadapi bala tentara yang bersatu melawan Dia di Armageddon, tetapi juga untuk dipersatukan dengan umat-Nya yang telah berpisah dengan Dia beberapa waktu lamanya.
Dua aspek tentang kedatangan-Nya telah dinyatakan dengan jelas dalam salah satu ilustrasi-Nya :

“Apabila Anak Manusia datang kelak dengan kemuliaan-Nya dan segala malaikat-
Nyapun serta-Nya, lalu Ia akan duduk di atas takhta kemuliaan-Nya; maka sekalian
bangsa manusiapun akan dihimpunkan dihadapan-Nya dan Ia akan mengasingkan
mereka itu seorang daripada seorang sama seperti gembala mengasingkan domba
dari pada kambing. Lalu dihimpunkan-Nya domba itu di sebelah kanan-Nya, tetapi
kambing itu di sebelah kiri-Nya. Kemudian Raja itupun kelak bertitahlah kepada
mereka itu yang di sebelah kanan-Nya: Marilah hai kamu yang diberkati oleh
Bapa-Ku, memiliki warisan, yaitu Kerajaan yang disediakan bagimu daripada awal
kejadian alam”

(Matius 25 : 31 – 34)
“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya : Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.”

(Matius 25 : 31 – 34)
Dilanjutkan :
“Kemudian Raja itupun akan bertitah kepada mereka itu yang di sebelah kiri-Nya :
Undurlah dari hadapan-Ku, hai laknat, masuklah ke dalam api neraka yang kekal,
yang disediakan bagi Iblis dan segala pesuruhnya”

(Matius 25 : 41)
“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya : Enyahlah dari
hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”

(Matius 25 : 41)
Ia sengaja menyisihkan waktu yang dipergunakan seluruhnya untuk menjawab pertanyaanpertanyaan yang ada dalam pikiran murid-murid-Nya berhubungan dengan kedatangan-Nya kembali. Mengenai waktu, ditekankan-Nya bahwa tidak seorangpun mengetahui dengan pasti, tetapi Ia memberi perincian tanda-tanda apabila hal itu tampak akan menunjukkan bahwa kedatangan-Nya sudah dekat. Karena manusia tidak mengetahui waktu yang tepat dari kedatangan-Nya, maka Ia menasehatkan agar selalu waspada senantiasa dan bersedia secara rohani (Matius 24, 25).
Ketika Ia naik ke sorga dua malaikat memberitahukan kepada murid-murid yang tengah
menatap ke atas, memandang Tuhannya yang terkasih menghilang jauh,
“Adapun Yesus yang dinaikkan ke sorga dari hadapan kamu itu, begitu juga akan
turun pula seperti kamu lihat Ia pergi ke sorga itu.”

(Kisah Para Rasul 1 :11)
“Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang
terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”


(Kisal Para Rasul 1 : 11)
Kata-kata ini bersama dengan ucapan-ucapan Yesus sendiri tentang kedatangan-Nya kembali, memimpin murid-murid itu menunggu kedatangan kembali dari Tuhannya secara pribadi. Bagi mereka masa itu akan menjadi satu saat penuh suka-cita, tetapi bagi dunia ini menjadi hari penuh ratap-tangis.

“Maka segala bangsa manusia yang di bumi akan meratap, lalu mereka itu akan
memandang Anak Manusia datang di atas awan dari langit, dengan kuasa dan
kemuliaan yang besar.”

(Matius 24 : 30)
“Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.”

(Matius 24 : 30)
“Tengoklah, Ia datang dengan awan, dan Ia akan kelihatan kepada tiap-tiap mata,
demikian juga kepada orang yang menikam Dia; maka segala bangsa di dunia ini
akan memandang Dia serta meratap.”

(Wahyu 1 : 7)
“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka
yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.”

(Wahyu 1 : 7)
Masa itu juga merupakan hari kebinasaan karena :
“Sebagaimana yang berlaku pada zaman Nuh demikian juga akan berlaku pada
zaman Anak Manusia. Orang makan minum, kawin dan dikawinkan sampai kepada
hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu airpun bahlah membinasakan sekaliannya.
Demikian juga seperti yang berlaku pada zaman Lut: Orang makan minum,
membeli, menjual, menanam dan mendirikan bangunan; tetapi pada hari Lut
keluar dari Sodom itu, turunlah hujan api dan belerang dari langit membinasakan
sekaliannya; sebagai itu juga kelak berlaku pada hari Anak Manusia dinyatakan.”

(Lukas 17 : 26 – 30)
“Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.
Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.
Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.”


(Lukas 17 : 26 – 30)
Kemusnahan mendadak yang tak diharapkan menunggui manusia. Kemusnahan inilah
tergambar oleh rasul dalam khayal simbolik yang terjadi ketika “perang hari besar Allah yang Maha Kuasa” setelah bangsa-bangsa berhimpun di Armageddon.
Setelah Yesus naik ke sorga murid-murid membawa kesaksian yang serupa. Ketika menulis kepada umat percaya di Tesalonika yang menderita penganiayaan kejam dari penentang-penentang Injil, rasul Paulus (Paul) memberi kepastian bahwa atas kesengsaraan dan bencana yang telah diderita oleh umat percaya itu akan dilayakkan bagi Kerajaan Allah. Bagi orang yang telah menganiaya mereka, Allah memerintahkan ganjaran malapetaka penderitaan,

“pada masa Tuhan Yesus itu dinyatakan dari sorga dengan segala bala tentara
malaikat-Nya, dengan api yang bernyala, membalas atas segala orang yang tiada
mengaku Allah, dan atas segala orang yang tiada mau menurut Injil Tuhan kita
Yesus. Maka mereka itu akan terkena siksa kebinasaan yang kekal, dijauhkan dari
hadirat Allah dan dari kemuliaan kodrat-Nya, pada masa Ia akan datang kelak
supaya dipermuliakan di dalam segala orang suci-Nya”

(2 Tesalonika 1 : 7 – 10)
“dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang tertindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikatmalaikat- Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya, apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai.”

(2 Tesalonika 1 : 7 – 10)
Dalam suratnya yang terdahulu pada sidang yang sama, rasul Paulus sudah menyatakan maksud tujuan kedatangan Yesus dengan kasih kepada umat percaya serta mereka yang telah mati dalam Kristus :

“Karena Tuhan sendiri akan turun dari sorga dengan suatu sorak dengan suara
penghulu malaikat dan dengan bunyi sangkakala Allah; maka segala orang yang
telah mati di dalam Kristus akan bangkit dahulu, kemudian kita yang sedang
hidup, yang telah tertinggal ini, akan diambil ke dalam awan bersama-sama
dengan mereka itu menghadap Tuhan di dalam awang-awangan; demikian kelak
kita senantiasa bersama-sama dengan Tuhan.”

(1 Tesalonika 4 : 16, 17)
“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan
sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.
Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”

(1 Tesalonika 4 : 16, 17)
Demikianlah Yesus Kristus bukan hanya datang hendak berhadapan dengan kekuatankekuatan yang melawan Dia melainkan Ia juga datang untuk melepaskan umat-Nya. Pada waktu kedatangan-Nya itu Ia akan membangkitkan orang mati yang beriman, mempersatukan mereka itu dengan umat beriman yang lagi tinggal dan membawa mereka itu bersama-sama beserta-Nya.
Sisanya akan dimusnahkan seperti kemusnahan dari dunia prasejarah oleh Air Bah.
Dalam suratan lain, rasul Paulus meluaskan pelajaran Tuhan mengenai kebangkitan yang akan terjadi apabila Yesus Kristus datang kembali;

“Karena sama seperti di dalam Adam mati segala manusia, begitu juga di dalam
Kristus sekaliannya akan dihidupkan. Tetapi masing-masing menurut peraturan
gilirannya; adapun buah sulung itulah Kristus, kemudian segala umat Kristus pada
masa kedatangan-Nya kelak.”

(1 Korintus 15 : 22, 23)
“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.”

(1 Korintus 15 : 22, 23)
“Ingatlah, aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: Bahwa bukan sekalian kita ini
akan mati, tetapi sekalian kita akan diubahkan, di dalam sesaat, di dalam sekejap
mata pada bunyi sangkakala yang akhir; karena sangkakala akan berbunyi, dan
segala orang mati akan dibangkitkan dengan keadaan yang tiada akan binasa dan
kita ini akan diubahkan. Karena tak dapat tiada keadaan yang akan binasa ini akan
memakai keadaan yang tiada akan binasa, dan peri yang akan mati ini tak dapat
tiada akan memakai peri yang tiada akan mati”

(1 Korintus 15 : 51 – 53)
“Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.”

(1Korintus 15 : 51 – 53)
Demikianlah berhubungan dengan Armageddon adalah peristiwa-peristiwa yang
menggoncang- kan dunia – kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini secara pribadi, kebangkitan orang beriman yang mati dalam Kristus dan perubahan dari peri yang akan


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:48 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:39 pm

mati kepada peri yang tiada akan mati dari umat suci/kudus yang tinggal hidup serta diangkatnya segenap umat suci untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa.
Suasana Sesudah Armageddon
PERANG pada hari besar Allah Yang Maha Kuasa dan peristiwa-peristiwa yang
berhubungan dengan itu meninggalkan dunia sama sekali dalam keadaan kosong tanpa penghuni penuh kehancuran dan kesunyian.
Dalam gempa-gempa bumi dahsyat yang menyertai perang itu, kota-kota dunia hancur lebur, pulau-pulau beterbangan dan gunung-gunungpun hilang lenyap. Orang jahat dimusnahkan;

“dan segala orang lain itu mati dibunuh dengan pedang Dia yang duduk di atas
kuda itu, yaitu pedang yang keluar dari pada mulut-Nya. Maka segala burung
itupun kenyanglah dengan daging mereka itu”

(Wahyu 19 : 21)
“Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.”

(Wahyu 19 : 21)
Orang benar akan kembali ke sorga bersama Kristus. Hal ini terbukti dari ucapan Kristus sendiri, ketika Ia berkata kepada murid-murid-Nya:

“Aku pergi menyediakan tempat bagimu. Dan jikalau Aku pergi serta sudah
menyediakan tempat bagimu itu, Aku akan kembali lalu menyambut kamu datang
kepada-Ku, supaya di tempat Aku ini ada di situ juga kamu ada”

(Yohanes 14 : 2, 3)
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”

(Yohanes 14 : 2, 3)
Ia tidak berkata, “Aku akan kembali beserta kamu, supaya di mana kamu berada, Aku juga
beserta”. Tetapi Ia berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan beserta mereka di tempat yang telah disediakan bagi mereka itu.
Tidak lama sebelum itu Simon Petrus bertanya kepada Yesus :
“’Ya Tuhan, ke mana gerangan Tuhan hendak pergi?’ Maka sahut Isa kepadanya :
‘Adapun ke tempat Aku pergi tiada dapat engkau mengikuti Aku sekarang ini,
tetapi kemudian kelak engkau mengikuti Aku’”

(Yohanes 13 :36)
“’Tuhan ke manakah Engkau pergi?’ Jawab Yesus : ‘Ke tempat Aku pergi, engkau tidak
dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.’”
(Yohanes 13 : 36)
Ketika Yesus meninggalkan dunia ini, Ia pergi kepada Bapa-Nya. Dalam rumah Bapa-Nya, kata-Nya ada banyak tempat kediaman dan Ia pergi menyediakan tempat bagi murid-murid-Nya.
Kemudian ia akan kembali untuk menerima mereka itu datang kepada-Nya. Kepada peristiwa inilah Yesus maksudkan ketika Ia berkata: “kemudian kelak engkau akan mengikuti Aku”.
Pengangkatan orang-orang saleh dari bumi ke sorga pada kedatangan Kristus yang kedua kali dinyatakan dalam keterangan rasul Paulus bahwa orang-orang saleh yang dibangkitkan dan orangorang saleh yang tinggal hidup diangkat bersama-sama di dalam awang-awangan bertemu Tuhan untuk tinggal senantiasa beserta Tuhan (lihat 1 Tesalonika 4 : 17).
Dengan dibinasakannya orang-orang jahat dalam peperangan, dan orang-orang suci diangkat ke sorga maka dunia ini ditinggalkan kosong tanpa penghuni. Tidak ada golongan manusia netral yang tergolong kelas ketiga yang hidup terus di planet ini setelah perang itu, karena dalam suasana persiapan tipu-muslihat yang dramatis untuk perang, kekuatan-kekuatan anti-Kristen akan mengadakan persatuan kecuali umat suci yang benar.

“Maka sekalian yang diam di bumi ini akan menyembah dia, yaitu namanya tiada
tersebut di dalam Kitab Hayat Anak Domba yang tersembelih, daripada asas dunia
ini”
(Wahyu 13 : 8)
“Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.”

(Wahyu 13 : 8)
Marilah kita memperhatikan kisahnya sebagaimana Yohanes melihat dalam khayal simbolik:
“Maka aku tampak seorang malaikat turun dari langit memegang anak kunci pintu
lubang yang tiada terduga dalamnya dan suatu rantai besar di dalam tangannya;
maka iapun memegangkan naga itu, yaitu ular tua yang menjadi Iblis dan Syaitan
dan merantaikan dia seribu tahun lamanya dan mencampakkan dia ke dalam
lubang yang tiada terduga dalamnya itu, lalu menutup lubang itu dan membubuh
meterai di atasnya, supaya tiada ia menyesatkan segala bangsa lagi, sehingga
genap seribu tahun; kemudian daripada itu tak dapat tiada ia akan dilenyapkan
kelak sedikit masa lamanya”

(Wahyu 20 : 1 – 3)
“Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Setan.
Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi
menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.”

(Wahyu 20 : 1 – 3)
Ular tua dirantai dan diasingkan menggambarkan bahwa kegiatan tipu-muslihat Iblis itu
dihentikan, yang dicapai sukses dengan menyingkirkan umat suci dari jangkauannya dan dengan membinasakan semua orang jahat, yang menjadi penyokong-penyokongnya. Maka penahanan dari kegiatannya itu berlangsung seribu tahun dan disebut dengan istilah millennium. Setelah waktu itu Setan akan diizinkan dalam jangka waktu yang pendek melakukan rencana-rencananya yang jahat.

“Maka aku tampaklah beberapa takhta dan ada orang duduk di atasnya maka
kepada mereka itu diserahkan kuasa menghukumkan; dan lagi aku tampak segala
nyawa orang yang dipancung kepalanya sebab menyaksikan Yesus dan Firman Allah
dan yang tiada menyembah binatang itu atau patungnya dan yang tiada bertanda
di dahinya atau di tangannya. Maka mereka itu sekalian hidup balik dan
memerintah beserta dengan Kristus seribu tahun lamanya”
(Wahyu 20 : 4)
“Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.”

(Wahyu 20 : 4)
Di sini diberikan pandangan tentang apa yang akan dilakukan oleh umat suci, yang telah pergi dengan Kristus dalam rumah Bapa-Nya, selama seribu tahun. Mereka tinggal dan memerintah bersama dengan Kristus. Inilah waktunya apabila mereka turut menghakimkan. Kata rasul Paulus :

“Tiadakah kamu mengetahui bahwa dunia ini akan dihakimkan oleh orang suci
kelak? . . . . Tiadakah kamu mengetahui bahwa kita akan menghakimkan malaikat
kelak?. . . .”

(1 Korintus 6 : 2, 3)
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? . . . . Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? . . . .”

(1 Korintus 6 : 2, 3)
Dalam pengadilan ini keadilan Allah akan dinyatakan seluruhnya yaitu tidak
diperkenankannya orang jahat masuk ke sana. Dengan tidak ragu-ragu lagi penghukuman akan dijatuhkan bagi setiap orang menurut perbuatannya masing-masing.

“Tetapi segala orang mati yang lain itu tiada hidup balik sehingga genap seribu
tahun itu”

(Wahyu 20 : 5)
“Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan pertama.”

(Wahyu 20 : 5)
Siapakah orang mati yang lain itu? Jelas, tidak lain adalah orang jahat yang telah mati, karena pada kedatangan Kristus yang kedua kali, seperti yang telah dikemukakan di atas, orang suci yang telah mati dibangkitkan dan diangkat ke sorga. Kebangkitan ini disebut kebangkitan pertama.
Ungkapan “kebangkitan pertama” menunjukkan adanya kebangkitan kedua dan peristiwa ini seperti dikatakan dalam ayat di atas akan terjadi setelah masa seribu tahun. Dengan demikian ada dua kebangkitan, kebangkitan orang benar pada permulaan seribu tahun dan kebangkitan orang jahat pada akhir seribu tahun. Yang menyatakan kebangkitan pertama itu sebagai “bangkit kepada hidup yang kekal” dan kebangkitan kedua sebagai “bangkit menerima hukuman”. Tuhan Yesus berkata:

“Jangan kamu heran akan hal itu, karena datang ketikanya apabila sekalian orang
yang di dalam kubur akan mendengar suara-Nya, lalu mereka itu akan keluar;
yaitu segala orang yang sudah berbuat baik akan bangkit kepada hidup yang kekal
dan segala orang yang sudah berbuat jahat akan bangkit menerima hukuman”

(Yohanes 5 : 28, 29)
“Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.”

(Yohanes 5 : 28, 29)
Demikian pula rasul Paulus menjelaskan mengenai dua kebangkitan, ia berkata:
“Dan hamba menaruh harap akan Allah sama seperti mereka itu sendiri juga
berharap, bahwa ada kelak kebangkitan dari pada orang mati, baik bagi orang
yang benar, baik bagi orang yang tiada benar”

(Kisal Para Rasul 24 : 15)
“Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada
kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar.”

(Kisal Para Rasul 24 : 15)
“Berbahagialah dan kuduslah orang, yang masuk bagian di dalam kebangkitan yang
pertama itu; maka mati yang kedua tiada berkuasa atas mereka itu, melainkan
mereka itu menjadi imam kepada Allah dan kepada Kristus dan akan memerintah
beserta dengan Dia seribu tahun lamanya”

(Wahyu 20 : 6)
“Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu.
Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imamimam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.”

(Wahyu 20 : 6)
Kebangkitan pertama adalah kebangkitan untuk hidup. Orang yang bangkit pada waktu itu akan masuk dalam kehidupan yang kekal dan mereka itu tidak pernah mati. Kematian kedua, yang akan memusnahkan orang yang bangkit pada kebangkitan kedua, tidak berkuasa lagi atas mereka.
Bersama Kristus mereka itu aman tenteram selama-lamanya.

“Apabila genap seribu tahun itu, maka Iblispun akan dilepaskan pula dari dalam
belenggunya, lalu keluar hendak menyesatkan segala bangsa yang ada di dalam
empat penjuru alam, seperti ‘Jadjudj wa Madjudj’, . . . maka banyaknya mereka
itu seperti pasir di pantai laut”

(Wahyu 20 : 7, 8)
“Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.”

(Wahyu 20 : 7, 8)
Bangkitnya orang jahat pada kebangkitan yang kedua pada akhir seribu tahun membebaskan Setan untuk melampiaskan kejahatannya. Segera ia pergi menipu segala bangsa yang baru dibangkitkan. Dihimpunkannya mereka itu untuk perang, bersatu padu sekali lagi dalam peperangan melawan Kristus serta umat kesucian. Kata “Djudj wa Madjudj” disebut kembali untuk mengingatkan perang mengerikan yang diterangkan oleh nabi Yehezkiel mengenai bala tentara Djudj melawan Allah beserta umat-Nya (lihat Yehezkiel 38, 39). Pengikut-pengikutnya banyak
seperti pasir di pantai laut. Mereka itu terdiri dari orang-orang jahat sejak permulaan dunia. Mereka jauh melebihi orang benar, karena dalam setiap zaman dunia ini pengikut-pengikut Yesus hanya sedikit.

“Masuklah kamu dari pintu yang sempit; karena luaslah pintu dan lebarlah jalan,
yang membawa kepada kebinasaan dan banyaklah orang yang masuk dari padanya.
Karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang membawa hidup dan hanya sedikit
orang yang mendapat dia”

(Matius 7 : 13, 14)
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang
menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:49 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:40 pm

(Matius 7 : 13, 14)
“Maka mereka itupun naiklah ke tanah yang luas, lalu mengepung tempat bala
tentara segala orang suci dan negeri yang dikasihinya itu; maka turunlah api dari
langit menghanguskan mereka itu”

(Wahyu 20 : 9)
“Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orangorang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka,”

(Wahyu 20 : 9)
Di sinilah kota suci diperkenalkan. Kota itu turun ke bumi, kira-kira pada akhir seribu tahun.
Dalam Wahyu 21 : 2, rasul Yohanes menjelaskan sebagai berikut :
“Maka aku tampak negeri yang kudus, Yerusalem baru turun dari sorga dari pada
Allah, lengkap seperti seorang pengantin perempuan terhias bagi suaminya.”

(Wahyu 21 : 2)
“Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.”

(Wahyu 21 : 2)
Iblis yang mengadakan usaha terakhir hendak merebut kota itu dari pada Kristus. Bala
tentaranya mengepung seluruh kota. Tetapi usaha itu mempercepat kebinasaannya. Kisah peperangan itu diceritakan secara ringkas – api dari Allah keluar dari sorga menghanguskan para menyerbu. Inilah kematian mereka yang terakhir, dimana tidak ada lagi kebangkitan. Inilah waktunya baik tubuh maupun jiwa dimusnahkan oleh api neraka.
“Takuti Dia, yang berkuasa membinasakan baik tubuh atau jiwa di dalam neraka”

(Matius 10 : 28)
“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”

(Matius 10 : 28)
Penyerbuan ini, yang terjadi seribu tahun sesudah kebinasaan kekuatan-kekuatan anti-Christ di Armageddon, sering kali dianggap sebagai tahap kedua dari peperangan besar di antara Kristus dengan Iblis. Dalam persiapan penyerbuan pertama, Iblis sebagian besar bergerak dengan perantaraan organisasi-organisasi dunia, baik agama maupun politik. Dalam penyerbuan kedua tampak ia memimpin langsung, karena setelah kebangkitan kedua rupanya tidak ada organisasiorganisasi manusia lagi. Semuanya itu telah berhenti. “Binatang” dan “nabi palsu” itu dicampakkan hidup-hidup ke dalam laut api yang bernyala dengan belerang (lihat Wahyu 19 : 20), dalam
hubungan dengan perang pada permulaan dari millennium. Lambang ini menggambarkan akhirnya dari pada organisasi-organisasi itu. Selanjutnya orang yang turut dalam perang pada akhir seribu tahun jauh lebih banyak, karena mereka terdiri bukan hanya orang yang mengambil bagian pada perang yang pertama melainkan terdiri dari semua orang jahat sejak dunia ini dijadikan.

“Sekalian orang yang di dalam kubur akan mendengar suara-Nya, lalu mereka itu
akan keluar; . . . segala orang yang sudah berbuat jahat akan bangkit menerima
hukuman”

(Yohanes 5 : 28, 29)
“Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.”

(Yohanes 5 : 28, 29)
Sebelum rasul Yohanes tidak ada penulis yang menyebut secara terperinci mengenai masa seribu tahun. Oleh karena itu, pada waktu berbicara tentang hari Tuhan mereka tidak membedakan antara peristiwa-peristiwa yang terjadi pada permulaan millennium dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir millennium. Mereka memandang kepada masa apabila Allah turut campur tangan dalam masalah-masalah manusia dan mendirikan kerajaan-Nya di atas bumi sebagai satu peristiwa luar biasa. Misalnya, rasul Paulus berbicara tentang kebinasaan selama-lamanya dari orang jahat yang terjadi “pada masa Tuhan Yesus dinyatakan dari sorga dengan segala bala tentara malaikat-
Nya (lihat 2 Tesalonika 1 : 17). Rasul Petrus berbicara tentang hari Tuhan datang

“seperti pencuri
diwaktu malam” pada waktu dimana “segala langit akan terbakar lalu binasa, dan segala anasir
akan terbakar lalu cair”, adalah jelas satu peristiwa sesudah seribu tahun (2 Petrus 3 : 12). Tetapi itulah hari yang dinantikan oleh umat Kristen sehingga beberapa orang menganggap Allah bersikap lambat terhadap perjanjian-Nya (2 Petrus 3 : 9, 14). Hanya kepada rasul Yohanes, penulis terakhir dari Alkitab, diberikan keterangan terperinci mengenai masa seribu tahun yang berada di antara “perang pada hari besar Allah yang Maha Kuasa” dan pemusnahan terakhir dari orang jahat.
Ayat Kitab Suci selanjutnya menunjukkan bahwa orang jahat akan dihanguskan sama sekali dan dimusnahkan ketika api dari langit membakar habis mereka itu (lihat Wahyu 20 : 9). Mereka akan diadili menurut catatan dalam kitab-kitab dan dijatuhkan hukuman menurut perbuatannya masing-masing (lihat Wahyu 20 : 11 – 13). Kemudian maut dan alam mautpun dicampakkan ke dalam laut api, suatu simbol pembasmian dan orang yang tidak dijumpai namanya tersurat di dalam Kitab Anak Domba akan pula dicampakkan ke dalam laut api dan mereka menderita mati yang kedua (lihat Wahyu 20 : 14, 15 – dan juga bandingkan dengan Wahyu 20 : 6). Penghukuman mereka bukanlah hukuman kekal selama-lamanya dalam api neraka seperti diterangkan oleh beberapa orang mengenai nasib mereka. Ayat-ayat Alkitab tertentu yang dipakai tanpa penyokong, serta tanpa pertimbangan umum mengenai isi keseluruhan dari Kitab Suci mula-mula kelihatannya seperti mengajarkan ajaran yang demikian. Tetapi dengan penyelidikan yang seksama akan pengajaran dari seluruh Kitab Suci mengenai soal ini ternyata tidak ada yang menyokong pendapat tersebut.
Suatu penyelidikan mengenai kata neraka (hell) seperti yang digunakan dalam Alkitab dapat menjelaskan soal ini dan menunjukkan hubungannya terhadap kemusnahan orang jahat dengan perbincangan tentang Armageddon. Dalam salinan King James dari kitab Perjanjian Lama kata alam maut (hell) adalah terjemahan dari kata bahasa Ibrani she’ol yang berarti kerajaan maut di mana semua orang, baik orang benar maupun orang jahat sama-sama digambarkan seperti menuju ke alam maut. She’ol diterjemahkan “kubur” (tiga puluh satu kali), “alam maut” (tiga puluh satu kali), dan
“lubang” (tiga kali). Tetapi dalam hal ini tidak ada apa-apa dalam istilah itu yang memberi sugesti sebagai suatu tempat penghukuman, apa lagi penderitaan selama-lamanya.
Dalam Kitab Perjanjian Baru dari salinan King James kata alam maut (hell) adalah terjemahan dari tiga istilah :

(1) Hades ¨secara umum berarti sama dengan kata bahasa Ibrani she’ol yang berarti alam maut. [Sepuluh kali hades diterjemahkan alam maut (Matius 11 : 23; 16 : 18;
Lukas 10 : 15; 16 : 23; Kisah Para Rasul 2 : 27, 31; Wahyu 1 : 18; 6 : 8; 20 :
13,14] dan [sekali diterjemahkan kubur (grave) (1 Korintus 15 : 15)]
(2) Geena ¨ terjemahan Gerika dari kata Ibrani yang berarti Lembah Hinom.
Lembah Hinom, yang sekarang disebut Wadi er-Rababeh adalah sebuah lembah di antara dua bukit di luar kota Yerusalem sebelah selatan. Di sini semasa pemerintahan kerajaan Yehuda dengan raja Ahaz dan Manasseh dilakukan upacara pembakaran anak-anak kepada dewa Molech (2 Tawarikh 28 : 3; 33 : 1). Pada zaman reformasi raja Yosia,

“maka dinajiskannya Tofetpun yang di lembah bani Hinom, sehingga
seorangpun tiada dapat lagi menjalankan anaknya laki-laki atau perempuan
terus dari pada api akan memberi hormat kepada Molech”

(2 Raja-Raja 23 : 10)
“Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang
mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh.”

(2 Raja-Raja 23 : 10)
Nabi Yeremia yang aktif hampir dalam seluruh pemerintahan raja Yosia, meramalkan
tentang lembah ini karena kekejian yang dilakukan di sana,
“Maka sebab itu, demikianlah firman Tuhan, hari akan datang kelak apabila ia
itu tiada lagi bernama Tofet atau lembah Bin-Hinom, melainkan Lembah
Pembunuhan; maka di Tofet itu tiada akan cukup tempat akan menguburkan
segala orang yang sudah dibunuh itu. Sehingga segala bangkai bangsa ini
menjadi makanan unggas yang di udara dan mangsa segala margasatwa, maka
seorangpun tiada yang akan menghalau dia”

(Yeremia 7 : 32, 33)
“Sebab itu, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman Tuhan, bahwa
orang tidak akan mengatakan lagi ‘Tofet’ dan ‘Lembah Ben-Hinom’, melainkan
‘Lembah Pembunuhan’; orang akan menguburkan mayat di Tofet karena kekurangan
tempat, bahkan mayat bangsa ini akan menjadi makanan burung-burung di udara serta
binatang-binatang di bumi dengan tidak ada yang mengganggunya.”

(Yeremia 7 : 32, 33)
Tanpa-ragu-ragu lagi keterangan ini menunjukkan bahwa lembah ini dianggap sebagai
simbol dari penghukuman dan tempat penghukuman bagi orang berdosa. [Sembilan kali geena diterjemahkan neraka (Matius 5 : 29, 30; 10 : 28; 23 : 15, 33; Markus 9 : 43, 45;Lukas 12 : 5; Yakub 3 : 6)] dan [tiga kali geena diterjemahkan api neraka (Matius 5 : 22;18 : 9; Markus 9 : 47). Suatu penyelidikan tentang istilah ini dalam berbagai pemakaianmenunjukkan bahwa istilah tersebut menerangkan satu tempat yang harus dihindarkan,meskipun menuntut mengorbanan diri yang paling menyakitkan (lihat Markus 9 : 43 –48).
(3) Neraka ¨ terdapat dalam kalimat yang menterjemahkan kata kerja “Gerika tartaroo”
berarti ditahankannya di dalam gua gelap (lihat 2 Petrus 2 : 4). Ayat ini
menunjukkan tempat dimana malaikat-malaikat dibuang ketika mereka itu
berdosa dan dijauhkan dari Sorga.
Dari berbagai istilah “alam maut”, hanya Geena yang menerangkan tentang tempat
penghukuman. Itulah tempat dimana menurut Yesus, “ulatnya tidak akan mati dan apinya tidak akan padam”, yaitu suatu gambaran kemusnahan sama sekali yang dipinjam dari Yesaya 66 : 24, dimana ulat digambarkan memakan bangkai manusia yang telah melanggar kepada Allah, dan api itu digambarkan menyala memakan habis dengan tidak dapat dihalangi.
Geena adalah kemusnahan yang akan menimpa orang jahat setelah millennium, apabila api turun dari Allah keluar dari Sorga dan menghanguskan segenap bala tentara yang mengepung Kota Suci (lihat Wahyu 20 : 9). Itulah laut api bagi semua orang yang tidak dijumpai namanya tersurat di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba (lihat Wahyu 20 : 15). Itulah tempat dimana penyembahpenyembah binatang dengan patungnya dan orang yang mempunyai tanda-tandanya akan disiksa dengan api dan belerang, di hadapan segala malaikat suci dan di hadirat Anak Domba. (lihat Wahyu
14 : 10). Inilah dapur api dimana semua orang jahat dicampakkan, dimana kelak ada tangisan dan kertak gigi (lihat Matius 13 : 40 – 42, bandingkan dengan Matius 13 : 47 – 50). Inilah api neraka yang kekal, atau penghukuman yang disediakan bagi Iblis serta malaikat-malaikatnya dan mereka yang melalaikan kesempatan yang diberikan Allah (lihat Matius 25 : 41, 46).
Terdapat dua kesimpulan yang dapat ditarik dari ayat-ayat Kitab Suci tersebut, yaitu :
1. Neraka bukanlah api yang membakar habis sekaligus, karena kalau demikian maka itu bukan berarti tersiksa. Keadaan ini pula akan membikin penghukuman dari semua orang jahat itu sama dengan tidak ada tingkatan menurut pelanggarannya. Tetapi Kitab Suci dengan jelas menerangkan bahwa manusia akan dihukum menurut perbuatannya masingmasing (lihat Wahyu 20 : 12). Hal ini dijelaskan pula di dalam kesimpulan dari salah satu perumpamaan Yesus,

“Adapun hamba yang sudah mengetahui kehendak tuannya, pada halnya tiada
ia bersiap atau melakukan kehendak tuannya itu, ia disesah amat sangat.
Tetapi yang tiada mengetahui itu, serta melakukan barang yang patut ia sesah,
maka ia akan disesah sedikit saja”

(Lukas 12 : 47, 48)
“Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan
persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

(Lukas 12 : 47, 48)
2. Penyiksaan itu tidak kekal selama-lamanya, ‘karena upah dosa itu maut’
(lihat Roma 6 :
23), bukan hidup kekal dalam neraka. Api yang datang dari Allah keluar dari Sorga
menghanguskan orang jahat (lihat Wahyu 20 : 9). Barangsiapa yang percaya kepada Anak yang Tunggal tidak akan binasa, melainkan mendapat hidup yang kekal.
Kalau begitu apakah artinya ucapan seperti “api neraka yang kekal”, “sengsara yang kekal” (dalam matius 25 : 26)? Kata yang diterjemahkan “kekal” adalah aionios, yang secara hurufiah berarti “selama masa itu”. Waktu dari masa yang dimaksudkan berbeda-beda dan ditentukan menurut objek yang dimaksudkan. Apabila yang dimaksudkan itu adalah api maka hal itu berarti bahwa api akan menjala dalam jangka waktu tertentu, yaitu api akan menjala terus sampai objek yang dibakar itu habis. Penggunaan dari aionios kepada api digambarkan dengan jelas dalam Yahuda 7, dimana Sodom dan Gomora dinyatakan menanggung siksa api yang kekal (aionios).
Tetapi api itu telah lama padam. Letak tempat tersebut sekarang ini kira-kira dibagian selatan dari Laut Mati.
Tidak ada jiwa-jiwa yang disiksa selama-lamanya tanpa ada akhirnya di Geena, karena baik tubuh maupun jiwa akan dibinasakan. Yesus menasehatkan :

“Janganlah kamu takut akan orang yang membunuh tubuh, dan yang tiada
berkuasa mematikan jiwa; tetapi yang terutama sekali hendaklah kamu takuti Dia
yang berkuasa membinasakan baik tubuh atau jiwa di dalam neraka”

(Matius 10 : 28)
“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”

(Matius 10 : 28)
Di dalam Geena, orang jahat dimusnahkan sama sekali. Setiap sisa-sisa dosa dan laknat dibasmi. Alam semesta akan dibersihkan sama sekali.


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:50 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:42 pm

Rehabilitasi Setelah Armageddon
API yang turun dari Allah dan keluar dari Sorga dan menghanguskan segenap bala tentara yang mengepung kota yang dicintai-Nya itu setelah turun dari Sorga pada akhir seribu tahun (lihat Wahyu 20 : 9) akan melaksanakan hal-hal yang lebih jauh lagi. Itu akan membaharui bumi dalam persiapannya menjadi seperti pada permulaan penciptaan. Rasul Petrus berkata :

“Tetapi segala langit yang ada ini serta bumi ini ditaruhkan untuk api oleh firman
itu juga, tersedia sehingga hari penghukuman dan kebinasaan segala orang fasik. .
. . Tetapi hari Tuhan itu akan tiba kelak seperti pencuri; lalu segala langit itu
akan lenyap dengan bunyi yang sangat dahsyat, dan segala anasir akan terbakar
lalu hancur, dan bumi serta segala perbuatan yang ada di dalamnya akan
dihanguskan. . . . Tetapi menurut seperti janji Tuhan, kita menantikan langit
yang baru dan suatu bumi yang baru, yang berisi kebenaran”

(2 Petrus 3 : 7, 10, 13)
Dalam Khayal kepada rasul Yohanes ditunjukkan langit dan bumi yang baru. Katanya :
“Maka aku tampak pula langit baru dan bumi baru; karena langit mula-mula dan
bumi mula-mula sudah lenyap dan lautpun tidak ada lagi”

(Wahyu 21 : 1)
“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan
bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.”

(Wahyu 21 : 1)
Dari pada debu bumi tua ini jadilah bumi yang baru sempurna dalam keelokan ciptaan Tangan Allah. Api telah membakar habis setiap noda dosa dan kejahatan. Alam semesta sekali lagi menjadi bersih sekali.
Harus pula diperhatikan bahwa kata “langit” dan “segala langit” dalam ayat-ayat ini tidak
menunjukkan tempat kediaman Allah. Kata ini dipergunakan berbeda-beda dalam Alkitab dan di sini, seperti sering terdapat dalam Alkitab, kata ini menunjukkan langit armosfer.
Laknat yang menimpa bumi sejak timbulnya dosa telah hilang lenyap.
“Maka tidaklah ada laknat di sana; maka arasy Allah dan Anak Domba itu akan
terdiri di dalamnya dan segala hamba-Nya akan berbuat ibadah kepada-Nya”

(Wahyu 22 : 3)
“Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di
dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,”

(Wahyu 22 : 3)
“Dan Ia akan menyapukan segala air mata dari pada matanya, maka tiadalah akan
ada lagi maut, atau perkabungan, atau tangisan, atau kesakitanpun tiada akan
ada lagi, karena segala perkara yang pertama sudah lenyap. Maka Ia yang duduk di
atas arasy itupun berfirman : ‘Tengoklah, Aku jadikan semuanya baru’. Dan lagi
firman-Nya : ‘Suratkanlah, karena perkataan ini tetap dan benar’”
(Wahyu 21 : 4, 5)
“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. Ia yang duduk di atas takhta itu berkata : ‘Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!’ dan firman-Nya : ‘Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.’”

(Wahyu 21 : 4, 5)
Ibukota dari bumi yang direhabilitasikan itu adalah Yerusalem Baru, yang di dalam khayal rasul Yohanes melihat kota itu turun dari Sorga. Ia menerangkan tentang kota itu sampai ke selukbeluknya.
Ditunjukkan kepadanya dalam bentuk kota-kota dahulu kala dikelilingi dengan temboktembok dan gerbang-gerbang. Kota yang tergambar dihadapannya itu berbentuk empat persegi, luasnya dua belas ribu setadi, atau menurut ukuran modern sama dengan seribu lima ratus mil (1500 mil). Catatan-catatan tidak menjelaskan apakah ukuran ini luas keliling atau hanya ukuran satu segi.
Namun salah satu dari ukuran ini memberikan ruang tempat tinggal yang cukup luas dalam ibukota dunia itu setelah Armageddon dimana terdapat perdamaian dan ketenteraman.
Tembok-temboknya terbuat dari permata yaspis dengan alas dihiasi berbagai jenis permata, menjulang setinggi 144 hasta atau kira-kira 210 kaki. Dua belas pintu gerbang, tiap-tiap pintu terbuat dari sebutir mutiara, di tiap sisi tiga gerbang terdapat pada temboknya. Di atas gerbang terukir nama-nama dari 12 suku Bani Israel. Pada 12 alasnya terukir nama-nama dari kedua belas rasul-rasul. Dari takhta singgasana Allah mengalirlah sungai hayat, di tepinya tumbuh pohon Alhayat.
(lihat Wahyu fasal 21 dan 22)
Untuk memastikan kepada kita bahwa di sana sama sekali tidak ada gangguan dari apapun juga dan sama sekali tidak ada kejahatan, rasul Yohanes dalam keterangannya mengenai kota itu, sengaja mencatat jenis penduduk yang tidak boleh masuk ke dalam kota tersebut :

“Tetapi bagi orang yang penakut dan yang tiada beriman dan yang keji dan segala
pembunuh dan orang yang berzinah dan orang hobatan dan yang menyembah
berhala dan segala pendusta, maka bagiannya itu ada di dalam laut yang bernyala
dengan api dan belerang, yaitu mati yang kedua”
“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orangorang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyalanyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”

(Wahyu 21 : 8)
“Tetapi sekali-kali tiada akan masuk ke dalamnya barang apa yang najis, atau
orang yang mengerjakan haram dan dusta, melainkan hanyalah orang yang
tersurat namanya di dalam Kitab Hayat Anak Domba itu”


(Wahyu 21 : 27)
“Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan
kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam Kitab Kehidupan Anak Domna itu.”

(Wahyu 21 : 27)
Dengan tidak diperbolehkan orang berdosa masuk bersama dengan Allah dan Kristus dan di tengah-tengah umat-Nya, maka penduduk dari kota yang akan datang itu aman tenteram dari timbulnya sesuatu dosa. Sepanjang abad mereka akan hidup di dalam suatu kehidupan yang sangat menyenangkan, dengan tidak ada gangguan atau rintangan untuk mengekang rasa kebahagiaan yang sempurna.

Cinta Allah diteguhkan di Armageddon
MASALAH ini telah membingungkan banyak orang, karena bagaimana di Armageddon cinta Allah dapat memusnahkan makhluk-makhluk yang telah Ia jadikan. Alkitab member penjelasan mengenai hal ini.
Allah telah menciptakan bumi yang sempurna lalu dimasukkan-Nya manusia yang jujur dan bahagia. Adalah maksud-Nya supaya manusia hidup kekal agar keadaan yang sempurna ini berlangsung terus selama-lamanya. Tetapi rencana ini dirintangi. Manusia jatuh dengan ujian sederhana yang Allah berikan kepadanya. Allah sudah memerintahkan kepadanya supaya jangan memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat yang telah ditempatkan-Nya di Taman Eden. Ia telah memperingatkan kepada manusia bahwa pada hari ia makan dari padanya, ia akan mati (lihat Kejadian 2 : 17). Dalam Taman Eden terdapat makanan berlimpah-limpah sehingga tidak ada
penderitaan bila meminta orang supaya tidak memakan buah dari satu pohon itu saja. Pada waktu Adam makan buah pohon larangan maka itu adalah suatu hal yang jelas dari pada pelanggaran.
Segera ia jatuh di bawah tuntutan hukuman mati.
Tetapi Allah mengadakan satu jalan agar manusia boleh luput dari hukuman mati selamalamanya.
Anak Allah mempersembahkan nyawa-Nya untuk menebus manusia dan untuk
mengajarkan hukuman dari pelanggaran yang dilakukan oleh manusia. Perhatikan!

“Karena demikian Allah mengasihi isi dunia ini sehingga dikaruniakan-Nya Anak-
Nya yang tunggal itu, supaya barang siapa yang percaya akan Dia jangan binasa
melainkan beroleh hidup yang kekal”
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

(Yohanes 3 : 16)
Manusia diciptakan sebagai makhluk yang bermoral bebas. Ia tidak dipaksa untuk memilih jalan keselamatan yang disediakan. Akan tetapi dengan memilih jalan kejahatan berarti ia memilih kebinasaan dan berarti juga membinasakan dirinya sendiri.
Alkitab menunjukkan bahwa Allah telah menyediakan jalan bagi manusia supaya
diselamatkan. Tidak seorangpun perlu tersesat. Yesus Kristus “menjadi korban perdamaian karena segala dosa kita; bukannya karena dosa-dosa kita saja melainkan karena dosa seisi dunia ini juga”
(lihat 1 Yohanes 2 : 2). Ia “berkehendak semua manusia beroleh selamat dan sampai kepada pengenalan dari hal yang benar” (lihat 1 Timotius 2 : 4). Ia tidak gemar akan seorangpun binasa, melainkan semua manusia sampai kepada pertobatan” (lihat 2 Petrus 3 : 9). Perhatikanlah!

“Sesungguh-sungguh Aku ini hidup! Demikian firman Tuhan Hua; masakan Aku suka
akan mati orang fasik itu, melainkan inilah suka-Ku, kalau orang fasik bertobat
dari pada jalannya dan boleh hidup! Tobatlah, tobatlah dari pada jalan-jalanmu
yang jahat itu, hai bangsa Israel?”
(Yehezkiel 33 : 11)
“Katakanlah kepada mereka : Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”

(Yehezkiel 33 : 11)
Tidak seorangpun dikecualikan dari pemberian keselamatan ini, perhatikan!
“Hai, kamu sekalian yang berdahaga! Marilah kepada air, dan kamu yang tiada
beruang marilah belilah dan makanlah, bahkan marilah, belilah air anggur dan air
susu dengan tiada uang dan dengan tiada harga!”

(Yesaya 55 : 1)
“Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak
mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga
anggur dan susu tanpa bayaran!”
(Yesaya 55 : 1)
“Lalu Roh dan pengantin perempuan itu berkata : ‘marilah’ dan orang yang
mendengar itu biarlah ia berkata : ‘marilah’. Dan orang yang dahaga biarlah ia
datang dan barangsiapa yang berkehendak biarlah ia mengambil air hayat itu
dengan percuma”

(Wahyu 22 : 17)
“Roh dan pengantin perempuan itu berkata : ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang
mendengarnya, hendaklah ia berkata : ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cumacuma!”

(Wahyu 22 : 17)
Allah yang penuh belas kasihan tidak dapat membiarkan dosa dan kesengsaraan merajalela terus menerus. Ia telah menjanjikan perbaikan bagi umat-Nya. Penangguhan kedatangan-Nya sering disalahtafsirkan sebagai sikap Allah yang tidak memperdulikan atau bersifat lambat. Tetapi rasul Petrus mengatakan :

“Tuhan tiada berlambatan di dalam hal perjanjian itu sebagaimana ada beberapa
orang yang membilangkan hal itu lambat, melainkan panjang sabar akan kamu,
tiada Ia gemar akan seorangpun binasa, melainkan sehingga sekaliannya sampai
kepada tobat”

(2 Petrus 3 : 9)
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

(2 Petrus 3 : 9)
Campur tangan Allah dalam masalah manusia berarti bahwa dosa dan orang berdosa akan disapu bersih. Dengan panjang sabar Allah memanggil orang berdosa agar mereka bertobat dari dosa, jangan sampai mereka dibinasakan oleh itu. Mengenai mereka yang akan hilang, Allah dapat mengatakan sebagaimana Ia katakan kepada Israel dahulu kala :
“Kebun anggur-Ku itu dipengapakan lagi, yang belum Ku-perbuat akan dia?”

(Yesaya 5 : 4)
“Apakah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Ku-perbuat
kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang
dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?”

(Yesaya 5 : 4)
Sifat pengasihan Allah untuk memusnahkan orang berdosa juga dinyatakan sebagai berikut :
“Bagaimana boleh Aku membiarkan dikau, hai Efraim! Bagaimana boleh Aku
menyerahkan dikau, hai Israel! Bagaimana boleh Aku jadikan dikau seperti Adam
dan menyamakan dikau dengan Zeboyim? Bahwa hati-Ku terbalik dalam dada-Ku
dan segala belas kasihan-Ku-pun berbangkitlah”

(Hosea 11 : 8)
“Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adam, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak.”

(Hosea 11 : 8)
Dengan demikian orang jahat tidak dapat mempersalahkan siapapun juga kecuali diri mereka sendiri, karena kebinasaan mereka pada perang Hari Besar Allah yang Maha Kuasa. Mereka tidak dapat menyalahkan Allah karena Ia telah mengadakan berbagai jalan dengan sifat-Nya yang panjang sabar itu untuk menyelamatkan mereka, mereka juga tidak dapat mempersalahkan tipu muslihat cerdik dari “Roh Iblis” karena Allah sudah memberikan cukup nasehat dan peringatan mengenai tipu muslihat Iblis itu. Pada hari penghukuman yang besar mereka akan mengakui keadilan Allah dalam perlakuan-Nya terhadap mereka.
Dalam hubungan dengan kemusnahan orang jahat di Armageddon ,dalam khayal rasul


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:51 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:42 pm

Yohanes terjadilah demikian :

“dengar bunyi seperti suatu suara besar orang ramai di Sorga berkata :
‘Halleluyah! Bagi Allah Tuhan kitalah segala keselamatan dan kemuliaan dan
kuasa, sebab segala hukum-Nya benar lagi adil; karena Ia telah menghukumkan
sundal besar itu, yang merusakkan dunia dengan persundalannya itu dan telah
menuntut balas darah segala hamba-Nya dari sundal itu!’ Dan lagi kata mereka itu
pada kedua kalinya : ‘Halleluyah!’ Bahkan, asapnya naik selama-lamanya. Maka
kedua puluh empat ketua dan keempat zat yang hidup itupun sujud menyembah
Allah yang duduk di atas arasy itu sambil berkata : ‘Amin! Halleluyah!’ Maka
kedengaranlah suatu suara dari arasy itu berkata : ‘Pujilah Tuhan kita, hai kamu
sekalian hamba-Nya yang takut akan Dia, baik kecil baik besar!’ Maka aku dengar
seperti bunyi suara orang ramai dan seperti bunyi banyak air menderu dan seperti
bunyi guruh yang besar berkata : ‘Halleluyah! Karena Tuhan kita, Allah yang Maha
Kuasa sungguh memerintah’.”

(Wahyu 19 : 1 – 6)
“Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di Sorga, katanya : ‘Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ia-lah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.’ Dan untuk kedua kalinya mereka berkata : ‘Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.’ Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata : ‘Amin, Haleluya.’ Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu : ‘Pujilah Alah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!’ Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti guruh yang hebat, katanya : ‘Haleluya! Karena Tuhan,
Allah kita, yang Maha Kuasa, telah menjadi Raja.”
(Wahyu 19 : 1 – 6)

Persediaan Diri menghadapi Armageddon
PERTANYAAN terppenting yang terlintas dalam pikiran setiap orang yang mengetahui bahwa peristiwa-peristiwa luar biasa akan segera terjadi ialah : Bagaimana dapat memastikan bahwa seseorang bisa berada pada pihak yang benar dalam perang pada Hari Besar Allah yang Maha Kuasa? Bagaimana kepastian kewarganegaraan dalam negeri indah yang akan datang itu? Di mana manusia akan hidup bahagia sentosa selama-lamanya?
Alkitab memberikan syarat-syaratnya, tetapi dunia agama tidak sefaham mengenai definisi yang tepat dari syarat-syarat itu. Pemimpin-pemimpin agama memberikan petunjuk-petunjuk yang bertentangan mengenai bagaimana Sorga bisa dicapai. Anti-Christ sendiri akan mengatakan bahwa ia berada pada pihak Kristus dan pengikut-pengikut-Nya dan adalah calon-calon penghuni Sorga.
Satu-satunya jalan yang memastikan dalam menghadapi keadaan yang membingungkan itu terletak pada penyelidikan yang seksama dan teliti dalam Alkitab serta bebas dari penuntun-penuntun.
Dalam soal sepenting ini janganlah kita membiarkan orang lain berpikir untuk kita. Allah
memberikan tanggung jawab kepada kita untuk menyelidiki Kitab Suci agar menemukan kebenaran-Nya dan pengenalan yang lebih dekat dengan Allah. Pada masa penghukuman nanti kita akan bertanggung jawab untuk apa kita telah menemukan kebenaran tentang itu dan tentu juga, apa yang kita buat dengan pengetahuan yang telah kita peroleh.
Pertanyaan “Apakah yang harus diperbuat supaya kita mendapat keselamatan?” dijawab dengan berbagai cara dalam Kitab Suci, tergantung dari kepentingan khusus orang yang mengemukakan pertanyaan itu. Seorang pemuda kaya datang kepada Yesus dan bertanya :

“’Ya Guru, kebajikan apakah patut hamba perbuat, supaya beroleh hidup yang
kekal?’ Maka kata Yesus kepadanya : ‘Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-
Ku dari hal kebajikan? Ada Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau mau masuk
kepada hidup, turutlah hukum-hukum itu’”

(Matius 19 : 16, 17)
“Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata : ‘Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ Jawab Yesus : ‘Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.’”

(Matius 19 : 16, 17)
Jawaban ini bukan dimaksudkan menjadi jawaban yang lengkap dan terakhir, karena ketika terus ditanyai apakah masih lagi ada yang kurang pada pemuda kaya itu, Yesus menyahut :

“Jikalau engkau hendak menjadi sempurna, pergilah engkau, jualkan barang apa
yang ada padamu, dan sedekahkanlah kepada orang miskin, maka engkau akan
beroleh harta di Sorga; dan marilah mengikut Aku”

(Matius 19 : 20, 21)
“. . . . Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.”

(Matius 19 : 20, 21)
Kepada jiwa-jiwa yang bertobat pada hari Pentakosta, terdapat suatu nasehat :
“’Hai tuan-tuan dan saudara sekalian, apakah yang wajib kami perbuat?’ Rasul
Petrus menyahut : ‘Hendaklah kamu bertobat dan berbaptis masing-masing kamu
dengan nama Yesus Kristus akan jalan keampunan dosamu, lalu kamu akan beroleh
anugerah Roholkudus’”

(Kisah Para Rasul 2 : 37, 38)
“. . . . ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’ Jawab Petrus kepada mereka :

‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama
Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh
Kudus.’”
(Kisal Para Rasul 2 : 37, 38)
Dalam suatu kotbah sesudah itu rasul Petrus menasehatkan orang banyak :
“Sebab itu hendaklah kamu menyesal dan bertobat, supaya dosamu dihapuskan
dan supaya datang juga masa yang senang dari pada hadirat Tuhan”

(Kisah Para Rasul 3 : 19)
“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,”

(Kisah Para Rasul 3 : 19)
Atas pertanyaan kepala penjara yang gemetar di Filipi,
“’Ya tuan-tuan, apakah wajib hamba perbuat supaya beroleh selamat?’ Rasul
Paulus dan Silas menjawab : ‘Percayalah akan Tuhan Yesus, maka engkau akan
beroleh selamat, yaitu engkau beserta dengan seisi rumah engkau’”
(Kisah Para Rasul 16 : 30, 31)
“. . . .’Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ Jawab mereka :
‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi
rumahmu.’”

(Kisah Para Rasul 16 : 30, 31)
Semua jawaban ini adalah jawaban-jawaban yang menentukan kepada pertanyaan, “Apakah yang wajib dilakukan supaya mendapat keselamatan?” Tidak ada satupun dari pada hal ini yang dapat lebih ditekankan untuk menyampaikan jawaban yang sesungguhnya dan tidak satupun yang boleh diabaikan. Supaya mendapat jawaban sempurna kepada pertanyaan tersebut maka semua yang telah dikatakan oleh penulis-penulis Alkitab mengenai keselamatan harus dipelajari.

“Adapun tiap-tiap Kitab yang diwahyukan Allah berfaedah bagi pelajaran, bagi hal
menyatakan yang salah, bagi hal membaiki yang rusak dan bagi hal mengajarkan
jalan yang benar, supaya hamba Allah itu sempurna, terletak bagi segala
perbuatan yang baik”

(2 Timotius 3 : 16, 17)
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”


(2 Timotius 3 : 16, 17)
Ada banyak contoh yang menguatkan iman kepada Yesus Kristus dan karunia Allah, seperti :

“Demikian Allah mengasihi isi dunia ini sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang
tunggal itu, supaya barang siapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal”

(Yohanes 3 : 16)
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak- Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

(Yohanes 3 : 16)
“Karena dengan anugerah itu kamu diselamatkan oleh sebab iman, maka hal itu
bukannya pekerjaan kamu, melainkan karunia Allah, bukannya dari pada
perbuatan, supaya jangan barang seorang memegahkan dirinya”

(Kisah Para Rasul 4 : 12)
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

(Kisah Para Rasul 4 : 12)
“Karena tiadalah aku berasa malu mengaku Injil itu; karena ia itulah suatu kuasa
Allah yang mendatangkan selamat kepada tiap-tiap orang yang percaya, terutama
sekali kepada orang Yahudi dan kepada orang Gerika juga. Karena di dalamnya itu
kebenaran Allah dinyatakan dari pada iman kepada iman, seperti yang telah
tersurat; bahwa orang benar itu akan hidup oleh sebab iman”

(Roma 1 : 16, 17)
“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan
Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis : ‘Orang benar akan hidup oleh iman’.”

(Roma 1 : 16, 17)
“Tetapi kami mengetahui, bahwa tiada seorang dibenarkan oleh sebab melakukan
Hukum Taurat, melainkan oleh sebab iman kepada Kristus Yesus, demikianlah kita
ini sudah percaya akan Kristus Yesus, supaya kita dibenarkan oleh sebab iman
kepada Kristus, dan bukannya oleh sebab melakukan Hukum Taurat, karena
dengan melakukan Hukum Taurat itu seorangpun tiada dibenarkan”

(Galatia 2 : 16)
“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum
Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat’.”

(Galatia 2 : 16)
“Di dalam hal kita dibenarkan oleh karena iman, ada kita beroleh sentosa dengan
Allah oleh sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, yang oleh-Nya juga kita diberi masuk,
oleh sebab iman, kepada anugerah ini, yang di dalamnya itu kita hidup; maka kita
bermegah-megah dari sebab pengharapan akan kemuliaan Allah”

(Roma 5 : 1, 2)
“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan
Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

(Roma 5 : 1, 2)
Banyak juga dikatakan tentang perbuatan dan perlunya usaha perseorangan untuk
mendapatkan keselamatan. Rasul Paulus, penulis yang paling banyak menyinggung soal iman daripada penulis-penulis Alkitab yang lainnya, tidak pernah menekankan iman tanpa perbuatan.
Tulisan-tulisannya berisi petunjuk-petunjuk dan nasehat yang dimaksudkan untuk mendorong usaha perseorangan dengan dasar iman yang kokoh. Sebagai contoh ada beberapa yang dikutip :

“Oleh yang demikian, hai segala kekasihku, sebagaimana kamu senantiasa ada
bertaat, bukannya pada masa aku hadir saja, melainkan terlebih pula sekarang
pada masa berjauhan dengan aku, kerjakanlah selamatmu sendiri dengan takut
dan gentar”

(Filipi 2 : 12)
“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakankeselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebihpula sekarang waktu aku tidak hadir,”

(Filipi 2 : 12)
“Karena bukannya orang yang mendengar bunyi Taurat itu benar kepada Allah,
melainkan orang yang mengamalkan hukum Taurat itu akan dibenarkan”

(Roma 2 : 13)
“Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah,
tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.”

(Roma 2 : 13)
“Maka sunat itu suatupun tiada apa-apa dan hal yang tiada bersunat itu suatupun


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:51 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:43 pm

tiada apa-apa; melainkan menjunjung hukum Allah”

(1 Korintus 7 : 19)
“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukumhukum Allah.”

(1 Korintus 7 : 19)
Meskipun demikian rasul Paulus menerangkan dengan jelas bahwa usaha manusia tanpa rahmat Kristus tidak akan pernah mencapai keselamatan karena rahmat Kristus-lah yang memungkinkan perbuatan-perbuatan ke-Kristen-an diperkenankan oleh Allah.

“Karena pikiran tabiat duniawi itulah maut; tetapi pikiran rohani itulah hidup lagi sentosa.
Karena pikiran tabiat duniawi itulah perseteruan dengan Allah, sebab tiada takluk ke bawah
hukum Allah, bahkan tiada dapat juga”

(Roma 8 : 6, 7)
“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai
sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”

(Roma 8 : 6, 7)
“Karena barang yang tiada boleh diperbuat oleh hukum Taurat, sebab lemah oleh karena tabiat manusia itu, diperbuat oleh Allah yang menyuruhkan Anak-Nya sendiri di dalam rupa manusia yang berdosa, yaitu sebab karena dosa itu, dengan menjatuhkan hukum ke atas dosa di dalam tabiat manusia”

(Roma 8 : 3)
“Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,”

(Roma 8 : 3)
Rasul Yakub mengatakan : “Demikianlah juga iman, jikalau tidak disertai perbuatan, maka matilah iman itu sendiri” (lihat yakub 2 : 17). Adalah juga sama benar bilamana perbuatan tidak disertai dengan iman maka matilah ia. Tidak ada pertentangan di antara penulis-penulis Alkitab mengenai hubungan wajar dari iman dan perbuatan. Sangatlah penting agar segenap petunjuk dipelajari dengan teliti dan jangan ada yang dikenakan kepada yang tidak berhubungan atau kepada yang tidak penting.
Menerima nama Kristus dan hidup sebagai orang Kristen tidak menjamin seseorang mendapat selamat. Adalah penting supaya “kita tetap di dalam iman dan pengharapan, yang menjadi kemegahan kita, sampai kepada kesudahannya” (lihat Ibrani 3 : 6). Ada kemungkinan,

“bagi orang yang sudah diterangkan hatinya dan sudah merasa-rasa karunia yang
dari Sorga itu sudah sama beroleh bagian dari pada Roh Kudus dan yang sudah
masuk hati firman Allah yang baik itu, beserta dengan segala kuat kuasa zaman
yang akan datang, akan tersandung”

(Ibrani 6 : 4 – 6)
“Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian,hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.”

(Ibrani 6 : 4 – 6)
Meskipun demikian tidak seorangpun perlu tersandung karena Allah “berkuasa memeliharakan kamu dari pada tersandung serta mendirikan kamu dari pada tersandung serta mendirikan kamu dengan tiada bercela di hadapan kemulian-Nya, dengan sukacita yang amat sangat” (lihat Yahuda
24). Tentang pengikut-pengikut-Nya, Yesus berkata :
“Seorangpun tiada dapat merampas dia dari dalam tangan Bapa-Ku”

(Yohanes 10 : 29)
“Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan
seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

(Yohanes 10 : 29)
Pernyataan ini tentu saja tidak menyangkal bahwa pengikut-pengikut-Nya itu dapat menarik diri apabila mereka kehendaki. Rasul Petrus menasehatkan :
“oleh sebab itu, hai saudara-saudaraku, sedangkan kamu dipanggil dan dipilih,
lebihkanlah usahamu meneguhkan hal itu; karena jikalau kamu berbuat yang
demikian, sekali-kali tiada kamu akan tersandung”

(2 Petrus 1 : 10)
“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan
pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah
tersandung.”

(2 Petrus 1 : 10)
Kewaspadaan terus-menerus adalah satu-satunya penjagaan. Setan berusaha keras
mengerahkan segenap daya untuk memaksa umat Kristen berpihak kepadanya. Rasul Petrus memberi peringatan :

“Hendaklah kamu beringat, hendaklah kamu berjaga-jaga; adapun Iblis seterumu itu, seperti
singa yang mengaum berjalan-jalan mencari siapa yang dapat dilulurnya. Lawanlah dia
dengan imanmu yang teguh”


(1 Petrus 5 : 8, 9)
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”

(1 Petrus 5 : 8, 9)
Apabila masa kesudahan semakin mendekat, amarahnyapun bangkitlah. Perhatikan!
“Wahai bagi bumi dan laut, karena Iblis sudah turun kepadamu dengan besar
kemarahannya, sebab mengetahui bahwa ketikanya sudah singkat”

(Wahyu 12 : 12)
“Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya,
celakalah kamu, hai bumi dan laut! Karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya
yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.”

(Wahyu 12 : 12)
Oleh sebab itu dinasehatkan dalam Wahyu melalui rasul Yohanes :
“Dengan segera Aku datang; berpeganglah kepada barang yang ada padamu, supaya jangan barang seorang mengambil mahkotamu”

(Wahyu 3 : 11)
“Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu”

(Wahyu 3 : 11)
Keadaan berjaga-jaga berulang kali dihubungkan dengan kedatangan Kristus, teristimewa karena tidak diketahuinya waktu yang tepat dari peristiwa tersebut. Inilah pokok utama, sebagai contoh dari salah satu perumpamaan Yesus :

“Ingatlah baik-baik, berjagalah dan berdoalah, karena tiada kamu mengetahui, bilakah
waktunya itu. Adalah hal itu seumpama seorang yang pergi keluar negerinya, yang
meninggalkan rumahnya dan yang memberi kuasa kepada segala hambanya, serta
menentukan pekerjaannya masing-masing, lalu berpesan kepada penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Sebab itu berjagalah kamu, karena tiada kamu mengetahui, bilakah tuan rumah itu tiba kelak, entahkah pada petangkah, atau tengah malamkah, atau ketika ayam berkokok, atau pagi harikah? Supaya jangan tiba-tiba Ia datang, serta mendapati kamu tertidur. Barang yang Aku katakan kepada kamu itu juga Aku katakan kepada sekalian orang yaitu : ‘Berjaga-jagalah!’”

(Markus 13 : 33 – 37)
“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan
menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang : ‘Berjaga-jagalah!’”

(Markus 13 : 33 – 37)
Kira-kira 20 tahun kemudian rasul Paulus mengulangi peringatan tersebut. Pada waktu
menulis surat kepada orang-orang percaya di Tesalonika, ia mengatakan :
“Tetapi dari hal segala masa dan ketika itu, hai saudara-saudaraku, tak usahlah
disuratkan kepadamu. Karena kamu sendiri mengetahui dengan secukupnya bahwa
Hari Tuhan itu datang seperti pencuri pada malam. Apabila orang berkata :
Sejahtera dan selamat, maka tiba-tiba datang kebinasaan ke atas mereka itu,
seperti kesakitan beranak atas perempuan yang hamil; maka sekali-kali tiada
mereka itu akan dapat melepaskan diri. Tetapi kamu ini, hai saudara-saudaraku,
tiadalah di dalam gelap, sehingga Hari itu menimpa kamu seperti seorang pencuri.
Karena kamu sekalian ini anak-anak terang dan anak-anak siang, bukannya kita
terhisap kepada malam atau kepada gelap. Sebab itu, biarlah jangan kita tidur
seperti orang lain. Melainkan biarlah kita jaga dan siuman”

(1 Tesalonika 5 : 1 – 6)
“Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
Apabila mereka mengatakan : Semuanya damai dan aman – maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin – mereka pasti tidak akan luput. Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.”

(1 Tesalonika 5 : 1 – 6)
Berjaga-jaga berarti mempertahankan kewaspadaan pada rohani supaya tetap tinggi. Hal itu menuntut penyerahan diri setiap hari. Yesus berkata :
“Jikalau barang siapa hendak mengikut Aku, haruslah ia menyangkali dirinya serta
menanggung salibnya tiap-tiap hari, lalu mengikut Aku”

(Lukas 9 : 23)
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya
setiap hari dan mengikut Aku.”

(Lukas 9 : 23)
Rasul Paulus berkata :
“Karena meskipun keadaan kami yang lahir ini dibinasakan, tetapi tetapi keadaan
yang batin kami itu dibaharui sehari-hari”


(2 Korintus 4 : 16)
“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot,
namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”

(2 Korintus 4 : 16)
Harus ada usaha mempelajari Alkitab dan minta doa setiap hari. Hal ini menjadi dasar
kehidupan Kristen. Mempelajari Alkitab digambarkan dengan tepat sebagai makanan rohani dari umat Kristen dan permintaan doa sebagai nafas hidup. Hidup kerohanian seorang Kristen tidak dapat bertahan lama jikalau salah satu dilalaikan.
Tetapi dalam mempersiapkan diri menghadapi krisis terakhir maka Kitab Wahyu harus
dipelajari dengan penuh perhatian. Inilah salah satu kitab terakhir yang ditulis dan
dimaksudkan untuk menunjukkan peristiwa-peristiwa yang akan datang sebelum dan selama campur tangan Allah dalam masalah manusia. Bahasa simboliknya dengan terus terang membentangkan pendahuluan sejarah dari peperangan besar di antara baik dan jahat sampai akhir kemenangan mutlak dari kebenaran. Tulisan-tulisannya membuka kedok usaha-usaha jahat dari kaki-tangan Anti-Christ, agar supaya manusia diperingatkan sehingga terhindar dari tipu muslihatnya.
Kitab ini dibuka dengan menyatakan kebahagian kepada sipembacanya :

“Berbahagialah orang yang membacakan dan segala orang yang mendengar perkataan
nubuat itu, dan yang memasukkan ke dalam hati segala barang yang tersurat di dalamnya;
karena masanya sudah dekat” (Wahyu 1 : 3)
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.”

(Wahyu 1 : 3)
Nada yang mengalamatkan bahaya menggema di akhir kalimat, yaitu : “sebab waktunya sudah dekat”. Gema itu mendengung di seluruh kitab. Nubuatan dibuka dengan keterangan bahwa Wahyu ini diberikan untuk menunjukkan “perkara-perkara yang tak dapat tiada akan jadi dengan segeranya”. Tiga kali dalam fasal terakhir dikatakan “Aku datang segera”, dan sekali diawali dengan kata “sesungguhnya”.
Berita pokok utama dari kitab ini dengan jelas dinyatakan :

“Tengoklah, Ia datang dengan awan dan Ia akan kelihatan kepada tiap-tiap mata, demikian juga kepada orang yang menikam Dia; maka segala bangsa di dunia ini akan memandang Dia serta meratap”

(Wahyu 1 : 7)
“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka
yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.”

(Wahyu 1 : 7)
Kedatangan Kristus adalah pokok utama dari isi kitab ini.


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Mon May 26, 2008 9:52 pm, total 1 kali diubah

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Admin on Mon May 26, 2008 9:44 pm

Beberapa rangkaian nubuatan terdapat di dalam kitab ini dan semuanya dipusatkan kepada peristiwa penting tersebut.
Babak pertama dari nubuatan itu adalah rangkaian berita kepada tujuh jemaat, mendesak supaya mereka bertobat, berjaga-jaga dan bersedia. Setiap berita diakhiri dengan sebuah perjanjian mulia kepada pemenang.
Deretan kedua dari nubuatan itu membentangkan sebuah kitab yang dimeteraikan oleh tujuh meterai, satu demi satu dibuka memperlihatkan peristiwa-peristiwa luar biasa dalam peperangan besar.
Sampai meterai keenam, Allah melakukan campur tangan dalam masalah umat manusia. Peristiwaperistiwa itu diterangkan sebagai berikut :

“Maka aku tampak tatkala Anak Domba itu membuka meterai yang keenam itu,
bahwa jadilah gempa bumi yang besar dan mataharipun menjadi hitam seperti
suatu kain kabungan dari pada rambut, dan bulan semata-mata menjadi seperti
darah, dan segala bintang di langit sudah gugur ke bumi, seperti pohon ara yang
meluruhkan buah buruknya tatkala digoncang oleh angin yang besar. Dan langit
itupun hilanglah seperti surat yang digulung dan tiap-tiap gunung dan pulau sudah
berubah keluar dari pada tempatnya. Dan segala raja di bumi dan orang besarbesar
dan panglima dan orang kaya-kaya dan yang berkuasa dan tiap-tiap orang,
baik hamba baik merdeka, sekaliannya bersembunyi di dalam segala gua dan di
celah-celah batu gunung, serta berkata kepada gunung-gunung dan batu-batu itu :
‘Timpalah kami, lindungilah kami dari pada wajah Dia yang duduk di atas arasy itu
dan dari pada muka Anak Domba itu, karena Hari yang Besar, yaitu Hari murka-
Nya itu sudah tiba dan siapakah yang dapat menahan?’”

(Wahyu 6 : 12 – 17)
“Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin dengan kencang. Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya. Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. Dan mereka berkata kepada gununggunung dan kepada batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.’ Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?”

(Wahyu 6 : 12 – 17)
Peristiwa dari meterai yang berikutnya diterangkan dengan ringkas,
“Tatkala Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh itu, sunyi senyaplah di
dalam Sorga ada kira-kira setengah jam lamanya”


(Wahyu 8 : 1)
“Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di Sorga, kira-kira setengah jam lamanya.”
(Wahyu 8 : 1)
Nubuatan berikutnya lagi menunjukkan tujuh nafiri atau sangkakala ditiup dan pada waktu setiap sangkakala itu ditiup rasul Yohanes melihat gambaran-gambaran secara simbolis. Peristiwaperistiwa dari sangkakala-sangkakala itu juga memuncak sampai pada peristiwa-peristiwa terakhir.

“Tetapi pada masa suara malaikat yang ketujuh itu, apabila ia hendak meniup
sangkakalanya, barulah rahasia Allah genap, menurut seperti kabar kesukaan yang
diberitakan kepada segala hambanya, yaitu nabi-nabi”
(Wahyu 10 : 7)
“Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi.”

(Wahyu 10 : 7)
“Maka malaikat yang ketujuh itupun meniup sangkakalanya, lalu kedengaranlah beberapa suara besar di Sorga mengatakan : ‘Kerajaan dunia ini menjadi Kerajaan Tuhan kita dan Kerajaan Kristusnya, maka Ia akan memerintah kelak selama-lamanya’”

(Wahyu 11 : 15)
“Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam Sorga, katanya : ‘Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.’”

(Wahyu 11 : 15)
“segala orang kafir itu sudah naik darahnya, tetapi murka-Mu sudah sampai, dan ketika
orang mati dihukumkan dan sudah sampai ketika memberi pahala segala hamba-Mu, yaitu nabi-nabi dan orang-orang suci dan orang yang takut akan nama-Mu, baik kecil baik besar; dan lagi sudah sampai ketika membinasakan segala orang yang merusakkan bumi ini”

(Wahyu 11 : 18)
“dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi.”

(Wahyu 11 : 18)
Fasal 12 melukiskan usaha-usaha Iblis hendak memusnahkan gereja Kristen. Pada akhirnya hanya satu umat yang tersisa dan peringatan naga itu bangkit terhadapnya lalu mengadakan peperangan. Umat yang tersisa dikenal oleh karena mereka memeliharakan hukum-hukum Allah dan mempunyai kesaksian Yesus.
“Maka naiklah marah naga akan perempuan itu, lalu pergi memerangi benih perempuan itu yang lagi tinggal, yaitu segala orang yang menurut hukum-hukum Allah serta berpegang kepada kesaksian Yesus itu”

(Wahyu 12 : 17)
“Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.”

(Wahyu 12 : 17)
Fasal 13 menggambarkan bagaimana Iblis memperalat agama dan politik guna memerangi umat yang tersisa dan membeberkan siasat perangnya.
“Maka iapun diberi kuasa memberi nafas kepada patung binatang itu, supaya
patung binatang itu berkata-kata dan membuat seberapa banyak orang yang tiada
menyembah patung binatang itu supaya dibunuh, dan ia membuat sekalian orang,
kecil, besar, kaya, miskin, merdeka atau hamba, supaya semuanya itu diberi
suatu tanda di tangan kanannya atau di dahinya; dan seorangpun tiada boleh
berjual-beli melainkan orang yang ada padanya tanda itu, yaitu nama binatang itu
atau angka bilangan huruf namanya itu”

(Wahyu 13 : 15 – 17)
“dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu,
sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah binatang itu, dibunuh. Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.”

(Wahyu 13 : 15 – 17)
Fasal 14 menerangkan tentang berita Allah kepada dunia yaitu mengenai penghukuman yang sudah dekat. Penghukuman yang mengerikan dijatuhkan ke atas orang yang jatuh ke dalam jerat halus dari Iblis dan mempersatukan diri dengan musuh Kristus. Pengikut-pengikut Kristus sekali lagi dikenal sebagai pemelihara hukum-hukum Allah. Fasal ini melukiskan secara simbolis pula tentang kedatangan Kristus, serta pengumpulan dari umat kesucian dan kebinasaan orang jahat.
Fasal-fasal berikutnya adalah mengenai tujuh malapetaka terakhir, dan perang Armageddon dan sesudahnya serta rehabilitasi setelah perang yang telah kita perbincangkan.
Suatu penyelidikan teliti dari berbagai peristiwa dalam rangkaian nubuatan mengizinkan
penyelidik Alkitab mengetahui di mana ia berdiri sementara hari perang itu semakin mendekat. Ini akan menyanggupkan ia untuk melihat tipu daya halus dari kelompok Anti-Christ. Pengkhianat itu akan menyamar dengan sangat lihai menyerupai yang benar sehingga hanya penyelidikan yang tekun akan Kitab Suci yang Allah telah berikan sebagai penuntun dapat memastikan kelepasannya dari tipu muslihat Iblis yang kuat hampir tak dapat dikalahkan. Tentang nubuatan, rasul Petrus berkata :

“Maka ada pula kepada kita perkataan yang dinubuatkan menjadi lebih teguh,
maka baik kamu perhatikan dia, seperti akan pelita yang bercahaya di dalam
suatu tempat yang gelap, sehingga hari siang dan bintang timur terbit bercahaya
di dalam hatimu”

(2 Petrus 1 : 19)
“Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.”

(2 Petrus 1 : 19)
Yesus memberi peringatan serta menandaskan usaha-usaha tipu muslihat licin dari Anti-Christ
sebagai berikut :

“Karena beberapa Kristus palsu dan nabi palsu akan terbit, serta mengadakan
pekerjaan yang ganjil sekali dan perbuatan yang heran, supaya menyesatkan,
jikalau boleh, orang yang terpilih itu juga. Perhatikanlah, Aku sudah mengatakan
itu kepadamu terlebih dahulu”

(Matius 24 : 24, 25)
“Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan
mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.”

(Matius 24 : 24, 25)
Ia memperingatkan pula bahwa Kristus palsu dan nabi-nabi palsu akan mengadakan mujizatmujizat dengan nama ke-Kristenan, kata-Nya :

“Sebab itu daripada buah-buahannya kamu akan mengenali dia. Bukannya tiap-tiap orang yang menyeru Aku : Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga; hanyalah orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga. Pada hari itu kelak banyaklah orang yang akan berkata kepada-Ku : Tuhan, Tuhan, bukankah dengan nama Tuhan kami mengajar, dan dengan nama Tuhan kami membuangkan setan dan dengan nama Tuhan kami mengadakan banyak mujizat? Pada ketika itu Aku akan berkata kepada mereka itu dengan nyata : Bahwa tiada pernah Aku mengenal kamu; undurlah dari pada-Ku, hai kamu yang mengerjakan jahat”

(Matius 7 : 20 – 23)
“Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru
kepada-Ku : Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang
melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku : Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

(Matius 7 : 20 – 23)
Tidak ada seorangpun yang perlu tertipu. Tidak ada seorangpun yang perlu tersesat. Tidak ada seorangpun yang perlu dihukum. Petunjuk-petunjuk Alkitab sudah cukup jelas bagi semua orang yang sungguh-sungguh rindu hendak mengetahui kebenaran Ilahi. Semua orang dapat menyediakan dirinya menghadapi saat-saat gawat pada masa hari terakhir dan terjamin bahwa mereka berada di pihak Kristus. Masa kini terlampau genting bagi seseorang untuk berpegang pada pengharapan yang tidak tentu. Sekaranglah waktunya bagi tiap orang untuk rajin mempelajari Alkitab secara pribadi, berdoa tekun dengan roh penyerahan diri kepada Allah, menyelidiki diri sendiri apakah kita betul-betul berada “di dalam iman”,
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”

(2 Korintus 13 : 5)
dan untuk menjadikan suatu panggilan dan pilihan kita terhadap keselamatan yang datang dari
Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang Kudus.
“Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu.”

(2 Petrus 1 : 10)
“Karena hanya seketika saja lamanya maka Tuhan yang datang itu akan tiba kelak
dengan tiada berlambatan”

(Ibrani 10 : 37)
“Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.

(Ibrani 10 : 37)
Semoga semua tulisan yang telah ada terangkum dalam kisah “Armageddon” ini dapat
membantu kita semua untuk lebih tekun dan sungguh-sungguh dalam menanggapi panggilan Ilahi dan semoga tidaklah terlambat bagi kamu sekalian untuk kembali dan bertobat kepada Allah dalam Yesus Kristus dengan penguasaan penuh dari pada Roh Kudus, sehingga tidak kita ini menjadi sengsara yang amat sangat ketika masa itu datang tiba-tiba menghampiri. Why.
HANYA IMANMU PADA YESUS YANG AKAN MENYELAMATMU

http://thomasworld.web.ugm.ac.id
contact : thomas_why85@mail.ugm.ac.id
49

Admin
Admin

Jumlah posting : 110
Join date : 17.05.08

Lihat profil user http://kristologi.forumandco.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: RAMALAN AMARGEDON

Post  Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik